MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Di tengah lanskap sosial Aceh Utara yang terus bergerak, di antara dinamika zaman, tantangan umat, dan harapan masa depan, hadir sosok yang menenangkan, menuntun, sekaligus menyatukan: Tgk. Jamaluddin Ismail, atau yang lebih akrab disapa masyarakat sebagai Walidi Lhoksukon, Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara, Pimpinan Dayah Sa’adatul Huda Lhoksukon dan Pimpinan Majelis Zikir Pemersatu Umat Aceh Utara.
Beliau bukan sekadar ulama dalam makna formal, tetapi representasi hidup dari nilai-nilai keulamaan itu sendiri: ilmu yang membumi, akhlak yang meninggi, dan pengabdian yang tak pernah lelah menyala.
Ulama yang Menyatukan, Bukan Memisahkan
Di tengah realitas umat yang kerap terfragmentasi oleh perbedaan, Walidi hadir dengan perspektif yang jernih, melihat segala sesuatu dengan kacamata positif dan hati yang lapang.
Beliau tidak membangun sekat, tetapi menjembatani. Tidak memperkeras perbedaan, tetapi melembutkan hati.
Dalam setiap nasihatnya, tersirat pesan yang sederhana namun mendalam: bahwa kekuatan umat tidak terletak pada keseragaman, tetapi pada persatuan. Beliau tidak hanya berbicara tentang ukhuwah, tetapi menghidupkannya dalam tindakan nyata.
Zikir sebagai Jalan Peradaban
Salah satu jejak monumental Walidi adalah konsistensinya menghidupkan tradisi zikir berjamaah di Aceh Utara.
Selama kurang lebih sembilan tahun, melalui gerakan Safari Subuh Tadzkiratul Ummah Aceh, beliau berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya, mengajak umat kembali kepada satu kekuatan yang sering dilupakan: mengingat Allah secara bersama-sama.
Zikir, dalam pandangan beliau, bukan sekadar ritual, tetapi energi spiritual kolektif yang mampu: menenangkan jiwa, mempererat ukhuwah, dan membangun peradaban yang berakar pada nilai Ilahiah.
Bahkan, gagasan “Anak Berzikir Aceh Utara” yang beliau cetuskan menjadi bukti bahwa visi beliau melampaui generasi, beliau tidak hanya membina hari ini, tetapi menanam masa depan.
Suara yang Menggetarkan Qalbu
Ada satu dimensi yang tak bisa dilepaskan dari sosok Walidi, suara beliau lembut, merdu, dan mengalir seperti doa yang tidak pernah terputus. Dalam setiap lantunan zikir yang beliau pimpin, terasa getaran yang menembus batas logika, seolah menyapa sisi terdalam dari jiwa manusia.
Zikir yang beliau lantunkan bukan hanya didengar tetapi dirasakan, tak jarang, para jamaah yang hadir hanyut dalam suasana itu, air mata menetes tanpa disadari, hati luluh tanpa diminta. Karena zikir yang beliau lantunkan bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan pancaran keikhlasan yang menjelma menjadi getaran ruhani.
Di sanalah kita belajar, bahwa suara yang lahir dari hati yang bersih akan menemukan jalannya sendiri menuju hati-hati yang merindukan Tuhan.
Halaqah Ramadhan: Menghidupkan Malam, Menyucikan Jiwa
Tidak hanya pada rutinitas harian dan mingguan, Walidi juga menghadirkan inovasi spiritual yang mendalam dalam momentum Ramadhan.
Beliau adalah penggagas halaqah malam ganjil Ramadhan di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, sebuah ruang kontemplasi yang menghidupkan malam-malam penuh kemuliaan.
Di saat banyak manusia terlelap, halaqah ini justru mengajak umat untuk bangkit, berzikir, merenung, dan mendekat kepada Allah dengan kesadaran yang utuh.
Malam-malam itu bukan sekadar waktu ibadah, tetapi ruang perjumpaan antara hamba dan Tuhannya, di mana air mata menjadi bahasa, dan doa menjadi jalan pulang. Inilah bukti bahwa Walidi tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menciptakan ruang-ruang spiritual yang relevan dan menghidupkan jiwa umat.
Ilmu yang Dihidupkan, Bukan Sekadar Disampaikan
Sebagai Pimpinan Dayah Sa’adatul Huda Lhoksukon dan Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim, Walidi meneguhkan tradisi keilmuan yang utuh: fiqih untuk ketertiban ibadah, tauhid untuk keteguhan iman, dan tasawuf untuk kebeningan hati. Beliau mengajarkan ilmu bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai jalan hidup.
Pengajian rutin setiap malam Senin di komplek dayah bukan hanya forum belajar, tetapi ruang transformasi, di mana ilmu bertemu akhlak, dan pengetahuan bertemu kesadaran spiritual.
Dalam setiap kalimatnya, terasa bahwa beliau tidak sekadar menguasai ilmu, tetapi dikuasai oleh hikmah.
Kepemimpinan yang Hidup dalam Keteladanan
Walidi bukan tipe pemimpin yang berdiri jauh dari umatnya. Beliau hadir di tengah masyarakat, di ruang-ruang sederhana, di masjid-masjid, di hati orang-orang kecil.
Dalam urusan berbagi, beliau tidak hanya mengajak, tetapi menjadi contoh. Dalam membangun gagasan, beliau tidak sekadar berwacana, tetapi menawarkan konsep yang terukur dan visioner.
Bahasanya lembut, tetapi menggetarkan. Sikapnya tenang, tetapi menguatkan. Beliau tidak emosional dalam menghadapi persoalan, melainkan rasional yang berbalut kebijaksanaan spiritual.
Antara Guru dan Sahabat
Bagi saya pribadi, Walidi Lhoksukon bukan hanya seorang ulama, tetapi guru sekaligus sahabat. Tempat bertanya tanpa takut dihakimi. Tempat berdiskusi tanpa merasa direndahkan.
Tempat kembali ketika pikiran mulai lelah dan hati mulai goyah.
Dalam dirinya, saya melihat perpaduan yang jarang ditemukan: ketegasan dalam prinsip, kelembutan dalam pendekatan, dan keluasan dalam menerima.
Penutup: Cahaya yang Menuntun Tanpa Menyilaukan
Walidi Lhoksukon adalah cahaya, tetapi bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan yang menuntun langkah dalam gelap. Beliau mengajarkan bahwa menjadi ulama bukan hanya tentang tinggi ilmu, tetapi dalamnya keikhlasan. Bukan tentang banyaknya pengikut, tetapi luasnya kebermanfaatan.
Dan di Aceh Utara, melalui langkah-langkah sunyi yang penuh makna itu, beliau telah menorehkan satu hal yang tak lekang oleh waktu: warisan keteladanan. Sebuah pelajaran bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh ide besar, tetapi oleh hati yang tulus, lisan yang menyejukkan, dan langkah yang istiqamah. {}



