MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Klarifikasi kegaduhan yang bermula dari sebuah video TikTok akhirnya berujung di dalam lumpur saluran irigasi. Pemilik akun TikTok “PakTam”, Asli Razi, didatangi dan dijemput langsung oleh masyarakat Kecamatan Tanah Luas setelah unggahannya memicu polemik dan kemarahan warga.
Di hadapan masyarakat dan wartawan, Razi mengaku selama dirinya diajak bersama Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa untuk membuat berbagai video di akun TikTok miliknya, ia tidak pernah menerima bayaran khusus.
Ia menyebut hanya pernah diberikan satu unit telepon genggam merek iPhone, sementara selama ini dirinya hanya menjalankan perintah untuk membuat konten demi membangun citra pemerintah daerah.
Razi juga mengaku sudah merasa dimanfaatkan dan lelah sehingga pernah meminta langsung kepada Bupati agar dirinya dikembalikan dari Dinaskominfosa ke dinas asalnya, yakni Dinas Kesehatan Aceh Utara.
Selain itu, ia menyebut selama ini lebih banyak menerima arahan mentah dari ajudan satu Bupati Aceh Utara bernama Erland untuk membuat berbagai video, namun tanpa honor tambahan dan hanya mengandalkan gaji sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Pernyataan tersebut disampaikan Razi saat proses dialog dengan tokoh Masyarakat di Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (16/05/2026), usai dirinya dijemput masyarakat dari rumahnya di kawasan Gampong Peurupok, Kecamatan Syamtalira Aron.
Video yang sebelumnya diunggah Razi dianggap menyesatkan dan menyulut emosi masyarakat. Dalam narasinya, ia menyebut empat unit alat berat excavator yang bekerja melakukan normalisasi saluran irigasi merupakan bantuan pemerintah daerah, bukan hasil patungan masyarakat sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Pernyataan itu sontak memantik reaksi. Sebab, bagi masyarakat Tanah Luas, normalisasi saluran tersebut bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan perjuangan warga dan para geuchik demi menyelamatkan ribuan hektare sawah yang bertahun-tahun mengalami krisis air akibat sedimentasi pasca banjir bandang.
Di tengah memuncaknya kekecewaan warga, Razi kemudian dibawa langsung ke lokasi pekerjaan. Ia diarak menyusuri area normalisasi saluran yang sedang dikerjakan alat berat.
Tak berhenti di situ, masyarakat bahkan meminta dirinya turun langsung ke dalam parit berlumpur untuk melihat fakta di lapangan dengan mata kepala sendiri.
Dengan kaki terendam lumpur dan berdiri di dasar saluran yang sedang dinormalisasi, Razi akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf terbuka kepada masyarakat.
Ia mengaku tidak mengetahui fakta sebenarnya bahwa alat berat yang bekerja selama ini memang disewa secara swadaya melalui patungan masyarakat dan para geuchik di Kecamatan Tanah Luas.
Normalisasi tersebut dilakukan untuk mempercepat aliran air dari Bendungan Pase Kanan menuju areal persawahan warga yang selama puluhan tahun menjadi persoalan serius bagi petani setempat.
Saluran irigasi yang terbengkalai hampir enam tahun terakhir membuat masyarakat akhirnya bergerak sendiri, mengumpulkan dana, dan menyewa excavator demi menyelamatkan musim tanam.
Ironisnya, di saat masyarakat berjibaku dengan lumpur dan biaya swadaya, unggahan video dari akun TikTok “Pak Tam” justru menuding sejumlah media lokal dan nasional menyebarkan “berita bohong” dengan menggunakan foto lama terkait kegiatan gotong royong tersebut.
Tudingan itu memperkeruh suasana dan dianggap melukai semangat kebersamaan masyarakat yang selama ini bahu-membahu memperjuangkan normalisasi irigasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari aparatur gampong dan tokoh masyarakat, empat unit excavator yang bekerja sejak sekitar 15 hari lalu memang berasal dari hasil patungan masyarakat.
Sementara satu unit excavator bantuan dari Dinas PUPR Aceh Utara disebut baru tiba pada Kamis sore, 14 Mei 2026.
Ketua Forum Geuchik Tanah Luas, Al-Halim Ali, menyayangkan munculnya polemik tersebut. Menurutnya, perjuangan masyarakat menyewa alat berat dilakukan murni demi kepentingan petani dan keberlangsungan sektor pertanian di wilayah Tanah Luas.
Di hadapan tokoh masyarakat dan para wartawan, Razi juga mengaku bahwa video yang ia unggah dibuat berdasarkan arahan dan informasi yang disebut berasal dari Kepala Dinas PUPR Aceh Utara, Ir. Jaffar, ST., MSM.
“Saya selaku pemilik akun TikTok ‘PakTam’ dengan penuh kesadaran dan itikad baik menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para keuchik, tokoh masyarakat, serta seluruh masyarakat Kecamatan Tanah Luas atas penyampaian informasi melalui akun TikTok saya yang telah menimbulkan kegaduhan, kontroversi, serta kesalahpahaman di tengah masyarakat,” ujar Razi, 16 Mei 2026.
Ia juga mengakui bahwa unggahan terkait dugaan “gambar bohong” dan tudingan tidak adanya patungan biaya sewa alat berat telah menjadi sumber polemik dan menyudutkan sejumlah pihak.
Razi turut menyampaikan apresiasi kepada Kapolsek, unsur Muspika, serta semua pihak yang telah memediasi persoalan tersebut hingga situasi kembali kondusif.
“Ke depan, saya berkomitmen untuk lebih bijak, berhati-hati, serta mengedepankan klarifikasi dan verifikasi sebelum menyampaikan informasi di media sosial agar tidak kembali menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat,” katanya.
Di saat warga sedang bersatu memperjuangkan air untuk sawah mereka, informasi yang tidak terverifikasi justru hampir merusak kepercayaan dan semangat gotong royong yang telah dibangun dengan susah payah.
Sementara itu, tokoh masyarakat Tanah Luas, Doni, turut angkat bicara terkait polemik yang terjadi akibat video viral tersebut.
Ia menilai, kegaduhan yang muncul seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam memilih pihak atau influencer yang dilibatkan untuk menyampaikan informasi kepada publik.
Menurut Doni, pemerintah membutuhkan figur yang memahami kondisi sosial masyarakat, mampu bekerja secara profesional, serta mengedepankan verifikasi sebelum menyampaikan informasi ke ruang publik.
“Pemerintah Kabupaten Aceh Utara harus lebih selektif menggunakan influencer atau pihak yang dijadikan corong informasi pemerintah. Jangan sampai niat membangun citra positif pemerintah daerah justru berubah menjadi pemicu gesekan antara masyarakat dengan pemerintah sendiri,” ujar Doni, (16/05/2026).
Di sisi lain, Tawi selaku pemuda Tanah Luas menilai komunikasi publik yang tidak tepat dapat memperkeruh suasana dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah, terlebih di tengah perjuangan warga yang sedang berupaya membangun sektor pertanian secara swadaya.
“Kalau penyampaian informasinya tidak objektif dan tidak memahami fakta di lapangan, dampaknya sangat besar. Bukan hanya melukai masyarakat yang sudah bersusah payah bergotong royong, tetapi juga memperburuk citra pemerintah daerah di mata masyarakat,” tutup Tawi. {}



