Ikuti kami

Inflasi Kota Lhokseumawe Terkendali di Level 0,53% (mtm)

Nasional

Inflasi Kota Lhokseumawe Terkendali di Level 0,53% (mtm)

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE – Inflasi diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu, Untuk Kota Lhokseumawe Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK)  pada bulan Oktober 2019 terkendali. Pada Oktober 2019, Kota Lhokseumawe tercatat mengalami inflasi sebesar 0,53% mtm (month to month), lebih tinggi dibandingkan bulan September 2019 yang tercatat mengalami deflasi sebesar (-) 0,42% (mtm) dan dibandingkan bulan Oktober 2018 yang inflasi sebesar 0,50% (mtm).

“Dua kota lain yang menjadi lokasi penghitungan inflasi di Provinsi Aceh, inflasi terendah bulan ini berada di Banda Aceh yaitu 0,07% (mtm) diikuti Meulaboh sebesar 0,18% (mtm) dan tertinggi Lhokseumawe”.

Secara agregat, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,22% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi (-) 0,32% (mtm) serta inflasi nasional sebesar 0,02% (mtm). Berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada periode Oktober 2019 sebesar 1,92% (yoy) atau berada di bawah kisaran sasaran inflasi 3,5% ±1% yoy (year on year), demikan pernyataan Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kota Lhokseumawe, Yufrizal, dalam siaran persnya, Rabu (6/11).

Dia juga menambahkan, Inflasi yang terjadi di Kota Lhokseumawe hingga bulan Oktober 2019 terutama bersumber dari kenaikan harga pada komponen Volatile Food (pekembangan harga komoditas pangan/nflasi komponen bergejolak) dengan andil sebesar 0,21%. Sejalan dengan hal tersebut, Komponen Administered Price (tidak menaikkan harga barang-barang yang diatur oleh pemerintah) dan inflasi inti mengalami inflasi dengan andil berturut-turut sebesar 0,21% dan 0,06%., jelasnya.

Lebih lanjut Yusrizal mengatakan, untuk Komponen Volatile Food pada bulan Oktober 2019 mengalami inflasi sebesar 1,74% (mtm), meningkat cukup besar dibandingkan bulan sebelumnya sebesar (-)1,70% (mtm). Lima komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu tongkol/ambu-ambu (0,22%), daging ayam ras (0,21%), bawang merah (0,13%), cumi-cumi (0,08) dan dencis (0,05). Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain cabai merah (-0,13%), cabai rawit (-0,10%), cabai hijau (-0,05%), udang basah (-0,04%) dan ikan kembung (-0,03%).

“ Harga sub-kelompok ikan segar mengalami kenaikan sejalan dengan menurunnya aktivitas penangkapan ikan akibat kelangkaan bahan bakar solar subsidi dikarenakan kuota subsidi solar untuk kapal dibawah 30 GT sudah melebihi batas. Komoditas daging ayam ras juga mengalami kenaikan disebabkan oleh permintaan yang meningkat sejalan dengan hari besar Maulid”, terangnya.

Yusrizal juga menjelaskan, di sisi lain, komoditas cabai merah, cabai rawit dan cabe hijau mengalami penurunan harga. Turunnya harga komoditas tersebut disebabkan melimpahnya hasil panen petani sehingga harga beli pedagang di tingkat agen pemasok juga ikut turun dibandingkan sebelumnya. Secara tahunan, komponen Volatile Food mencatat inflasi sebesar 0,62% (yoy).

“Komponen Barang/Jasa yang diatur oleh Pemerintah (Administered Prices) tercatat mengalami inflasi sebesar 0,21% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar (-)0,18% (mtm). Hal ini utamanya disebabkan oleh Rokok Kretek Filter yang mengalami kenaikan sebagai dampak dari isu kenaikan cukai rokok yang akan ditetapkan pada tahun 2020. Secara tahunan, komponen Administered Prices mencatat inflasi sebesar 2,40% (yoy)”.

“Komponen inti bulan Oktober 2019 mengalami inflasi sebesar 0,06% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,12% (mtm). Komoditas inflasi inti didorong oleh harga emas perhiasan, meskipun tidak setinggi sebelumnya, dan televisi berwarna. Secara tahunan, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,39% (yoy)”.

Ke depan, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2019, yaitu 3,5±1%. Untuk itu, koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga, tandas Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kota Lhokseumawe, Yufrizal. (rif)

Komentar
Continue Reading
Baca juga...

Lainnya dalam Nasional

To Top