• Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Jumat, September 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Google News
Merdeka Bicara
Telegram
  • Beranda
  • Sosmas
  • Nasional
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Islam
    • Sport
    • Pariwisata
    • Lingkungan
  • Beranda
  • Sosmas
  • Nasional
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Islam
    • Sport
    • Pariwisata
    • Lingkungan
No Result
View All Result
Merdeka Bicara
No Result
View All Result
  • Home
  • Sosmas
  • Nasional
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Lingkungan
  • Peristiwa
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Islam
Home Opini

Narasi dan Arah Pembangunan

Oleh: Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST. MT

18 Maret 2026
Reading Time: 2 mins read
A A

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang diukur dengan beton, aspal, dan angka-angka statistik, kita sering lupa bahwa ada satu elemen yang tak kasat mata, namun justru menentukan arah dan keberhasilan segalanya: narasi.

Narasi bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cara sebuah realitas dibingkai, dimaknai, dan disampaikan kepada publik. Ia membentuk persepsi, menumbuhkan kepercayaan, bahkan menggerakkan tindakan. Dalam banyak kasus, keberhasilan atau kegagalan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh substansinya, tetapi oleh bagaimana ia dikomunikasikan dan dipahami.

Kita menyaksikan tidak sedikit program yang secara konsep sudah baik, namun berujung resistensi. Bukan karena publik menolak substansi, tetapi karena mereka tidak merasa dilibatkan, tidak dipahami, atau bahkan tidak diberi ruang untuk memahami. Di sinilah narasi menjadi jembatan atau justru jurang antara kebijakan dan masyarakat.

Sayangnya, komunikasi publik kita masih kerap terjebak pada pola lama: informatif, satu arah, dan minim empati. Pemerintah atau nstitusi berbicara, publik diminta mendengar. Padahal, di era partisipatif saat ini, publik tidak lagi sekadar objek komunikasi, melainkan subjek yang memiliki suara, pengalaman, dan harapan.

Narasi yang kuat bukanlah narasi yang paling keras terdengar, tetapi yang paling mampu menyentuh kesadaran kolektif. Ia dibangun bukan hanya dengan data, tetapi dengan empati. Bukan hanya dengan logika, tetapi dengan rasa. Narasi yang hidup adalah narasi yang memberi ruang dialog, yang mendengar sebelum berbicara, yang memahami sebelum menjelaskan.

Dalam perspektif kehumasan modern, inilah esensi dari komunikasi dua arah yang simetris: sebuah proses dialogis yang menempatkan publik sebagai mitra, bukan sasaran. Narasi tidak lagi menjadi alat legitimasi semata, tetapi menjadi medium untuk membangun kepercayaan dan kebersamaan.

Jika jalan, jembatan, dan gedung adalah infrastruktur fisik yang menghubungkan ruang, maka narasi adalah infrastruktur sosial yang menghubungkan makna. Tanpa narasi yang kuat, pembangunan berisiko kehilangan legitimasi. Tanpa komunikasi yang tepat, kebijakan dapat kehilangan arah di mata publik.

Lebih jauh, narasi juga menentukan bagaimana sebuah daerah atau institusi dipersepsikan. Ia membentuk identitas, reputasi, dan bahkan masa depan. Dalam dunia yang semakin terkoneksi, persepsi sering kali lebih cepat bergerak dibanding realitas itu sendiri.

Oleh karena itu, membangun narasi bukanlah pekerjaan tambahan, melainkan bagian inti dari pembangunan itu sendiri. Ia harus dirancang dengan kesadaran strategis, dikelola dengan sensitivitas sosial, dan dijalankan dengan integritas.

Pembangunan yang berhasil bukan hanya yang terlihat megah secara fisik, tetapi yang mampu dirasakan maknanya oleh masyarakat. Dan makna itu tidak lahir begitu saja, ia dibentuk, dirawat, dan disampaikan melalui narasi. {}

 

Penulis juga merupakan Mahasiswa Program Doktoral Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Tags: PNLUIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
SendShareTweet
Next Post

Pantau Arus Balik: Kapolda Aceh dan Kapolres Pidie Tinjau Pos Tol Padang Tiji

Rekomendasi

Darurat Covid-19, Kemenag Aceh Timur Susun Kurikulum Darurat

6 tahun ago

Soal Belajar Tatap Muka di Aceh Utara, Begini Tanggapan Anggota Dewan

6 tahun ago

Trending

  • PNL Gemilang di Panggung Nasional, 6 Finalis Sapu Bersih Juara KMIPN VIII 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemuda Kompas Aceh Utara Go Internasional! Muhammad Refi, Berkiprah di Changemaker Youth Leadership Camp 2026 Malaysia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengurus MAA Aceh Utara “Bu Dini” Dianugerahi Tokoh Seni dan Budaya Aceh Utara 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim Robot Cakra Donya PNL Juara 1 Elektro Expo Nasional 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PNL dan PT Perta Arun Gas Perpanjang MoU, Perkuat Sinergi Pendidikan Vokasi dan Industri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor.
SUBSCRIBE

Rubrik

Network

  • Acehlive
  • Geovice.net
  • Geovice.id

About Us

Informasi publik harus bebas dan independen. Kami menghadirkan informasi tersebut ke dalam genggaman Anda.

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 merdekabicara.com - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.

No Result
View All Result
  • Home
  • Sosmas
  • Nasional
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Lingkungan
  • Peristiwa
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Islam

© 2024 merdekabicara.com - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In