MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara, Diniah, S.Pd., yang akrab disapa Bu Dini menerima Anugerah Tokoh Seni dan Budaya Aceh Utara Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas lebih dari dua dekade pengabdiannya menjaga denyut seni, adat, dan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. pada malam penutupan rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai dan Piasan Pasee, Minggu malam (13/9/2026).
Bagi Bu Dini, panggung seni bukan sekadar tempat mempertontonkan keindahan. Di sana ada identitas yang harus dijaga, nilai yang harus diteruskan, dan jejak peradaban yang tidak boleh terputus. Prinsip itulah yang membuatnya tetap bertahan dalam dunia seni dan budaya sejak 2003 hingga hari ini.
Konsistensinya dapat ditelusuri dari perjalanan panjang di berbagai ruang kebudayaan. Sejak 2004 hingga sekarang, Bu Dini memimpin Sanggar Lam Peunangke Kabupaten Aceh Utara. Ia juga pernah menjadi seniman sekaligus Pengurus Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Aceh Utara periode 2006–2014.
Pengabdiannya kemudian semakin menyatu dengan kerja-kerja pelestarian adat melalui MAA Kabupaten Aceh Utara. Selama dua periode menjadi pengurus MAA, Bu Dini aktif mengambil bagian dalam upaya menjaga dan memperkenalkan khazanah seni serta budaya Aceh kepada masyarakat.
Bu Dini juga dipercaya sebagai Ketua Sanggar Grup Peusaboh Hate, binaan MAA Kabupaten Aceh Utara. Sanggar tersebut menjadi salah satu ruang tempat seni tradisi terus dirawat dan ditampilkan, sekaligus menjadi jembatan untuk mempertemukan warisan para indatu dengan generasi hari ini.
Tak hanya bergerak di ruang seni dan budaya, Bu Dini juga menaruh perhatian besar terhadap pemberdayaan perempuan. Ia aktif sebagai Pengurus PKK Kabupaten Aceh Utara dan dipercaya memimpin Lembaga Pemersatu Wanita Sejahtera. Kiprah tersebut menunjukkan bahwa pengabdiannya bertumbuh dari panggung kebudayaan menuju ruang sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Bu Dini menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya. Baginya, anugerah tersebut bukan semata pengakuan terhadap dirinya, melainkan penghormatan kepada seluruh seniman dan pelaku budaya yang selama ini tetap setia menjaga warisan leluhur.
“Anugerah ini menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan mengabdi. Seni dan budaya adalah jati diri kita. Apa yang diwariskan oleh indatu harus kita jaga dan kita teruskan kepada generasi berikutnya,” ujar Bu Dini.
Ia berharap momentum 800 tahun Samudera Pasai tidak berhenti sebagai perayaan usia dan romantisme sejarah. Momentum tersebut harus menjadi energi untuk kembali melihat kebudayaan sebagai fondasi penting dalam membangun karakter dan identitas generasi Aceh Utara.
Sebab, kebesaran sebuah peradaban tidak hanya dibaca dari jejak sejarah yang ditinggalkannya, tetapi juga dari kesungguhan generasi hari ini dalam menjaganya. Di jalan panjang itulah Diniah memilih mengabdi, merawat seni, menjaga adat, dan memastikan warisan Bumoe Samudera Pasai tetap memiliki panggung di masa depan. {}



