MERDEKABICARA.COM – Ada orang yang menjadi besar karena jabatan. Ada pula yang memperoleh jabatan setelah lebih dahulu membesarkan dirinya melalui kerja keras, ketekunan, dan pengabdian. Bagi saya, H. Mukhlis Takabeya merupakan sosok yang perjalanan hidupnya menarik untuk dibaca dari sudut pandang yang kedua.
Publik mengenalnya sebagai pengusaha sukses yang kemudian memasuki panggung politik dan dipercaya memimpin Kabupaten Bireuen. Namun, bagi saya, H. Mukhlis bukan sekadar pengusaha, politisi, atau seorang bupati. Beliau adalah senior, sahabat, sekaligus representasi perjalanan seorang alumni Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) yang berhasil mengembangkan kapasitas dirinya hingga melampaui batas-batas ruang kuliah.
Saya mengenal H. Mukhlis jauh sebelum dunia politik menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Karena itu, pandangan saya terhadap sosoknya tidak dibangun dari gemerlap kekuasaan, melainkan dari pengalaman persahabatan, interaksi personal, dan pengamatan terhadap perjalanan panjangnya sebagai pengusaha.
Ada satu karakter yang membekas dalam ingatan saya, yakni besarnya perhatian beliau kepada teman dan sahabat. Di tengah kesibukan mengelola perusahaan, hubungan persahabatan tetap memperoleh tempat yang istimewa.
Bagi H. Mukhlis yang saya kenal, keberhasilan tidak harus menciptakan jarak. Semakin tinggi seseorang melangkah, semakin penting baginya mengingat orang-orang yang pernah berjalan bersama.
Dalam kehidupan, kualitas seperti ini tidak selalu dapat diukur melalui angka, jabatan, ataupun kekayaan. Namun, justru nilai-nilai kemanusiaan itulah yang sering meninggalkan kesan paling mendalam.
Dari Teknik Sipil Menuju Dunia Usaha
H. Mukhlis Takabeya merupakan alumni Teknik Sipil PNL, yang memiliki akar pendidikan teknik dan kedekatan dengan dunia konstruksi. Latar pendidikan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan profesionalnya.
Perjalanan kewirausahaannya bukanlah kisah keberhasilan yang lahir dalam semalam. CV Takabeya Perkasa dirintis pada tahun 2000. Seiring perjalanan waktu, terutama sejak 2005, usaha tersebut berkembang menjadi PT Takabeya Perkasa dan kemudian tumbuh dalam kelompok usaha yang dikenal sebagai Takabeya Perkasa Group.
Dari sektor konstruksi, sayap usahanya berkembang ke berbagai bidang, antara lain batching plant, asphalt mixing plant, stone crusher, hingga pabrik kelapa sawit dan stasiun pengisian bahan bakar umum.
Perjalanan tersebut memperlihatkan kemampuan membaca peluang, keberanian mengambil risiko, serta ketangguhan menghadapi dinamika dunia usaha.
Dalam perspektif kewirausahaan, keberhasilan tidak cukup hanya ditopang oleh modal finansial. Diperlukan modal manusia (human capital), modal sosial (social capital), kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan yang berorientasi pada keberlanjutan.
H. Mukhlis membangun usahanya melalui proses panjang. Ada masa merintis, menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan sulit, dan terus bergerak ketika tantangan datang silih berganti.
Saya melihat perjalanan tersebut sebagai cerminan filosofi seorang petarung. Bukan manusia yang tidak pernah menghadapi kesulitan, melainkan manusia yang memilih untuk tidak menyerah ketika kesulitan menghadang.
Sebab, kesuksesan sejatinya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berhasil mendaki, tetapi juga seberapa kuat ia bertahan ketika jalan menuju puncak dipenuhi batu dan duri.
Ketika Kesuksesan Tidak Memutus Hubungan dengan Almamater
Ada satu dimensi perjalanan H. Mukhlis yang menurut saya patut menjadi teladan bagi para alumni perguruan tinggi, khususnya pendidikan vokasi, yakni kesetiaannya kepada almamater.
Tidak semua alumni yang berhasil memiliki kesadaran untuk kembali memberikan kontribusi kepada institusi yang pernah membentuk dirinya.
H. Mukhlis memperlihatkan hubungan yang terus terpelihara antara keberhasilan pribadi dan tanggung jawab moral terhadap kampus.
Perhatiannya terhadap PNL tidak berhenti pada nostalgia masa kuliah atau kebanggaan menyandang status alumni. Kontribusinya hadir dalam bentuk yang nyata.
Mulai dari keterlibatan dalam penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, penyediaan kesempatan magang bagi mahasiswa, rekrutmen alumni, pemberian kuliah umum, hingga keterlibatan praktisi industri dalam proses pembelajaran.
Bahkan, berbagai kegiatan akademik, kemahasiswaan, dan agenda kelembagaan kampus kerap memperoleh perhatian serta dukungannya.
Sebagai bagian dari keluarga besar PNL, saya memahami betapa pentingnya kehadiran alumni seperti H. Mukhlis dalam memperkuat hubungan antara kampus dan dunia industri.
Pendidikan vokasi tidak mungkin berkembang secara optimal apabila berjalan sendiri, terpisah dari dinamika dunia kerja. Diperlukan kolaborasi yang saling menguatkan antara perguruan tinggi sebagai penghasil sumber daya manusia dan industri sebagai ruang penerapan kompetensi.
Dalam kerangka link and match, keterlibatan alumni yang telah berhasil membangun industri merupakan jembatan strategis untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
Lebih menarik lagi, berdasarkan informasi yang saya peroleh, sekitar 40℅ karyawan PT Takabeya Perkasa Group merupakan alumni PNL. Artinya, banyak yang alumni memperoleh ruang pengabdian profesional dalam ekosistem usaha yang dibangun oleh sesama alumni.
Angka tersebut bukan sekadar statistik ketenagakerjaan. Di baliknya terdapat kesempatan kerja, penghidupan keluarga, pengembangan kompetensi, dan harapan masa depan.
Di sinilah saya melihat makna keberhasilan yang lebih luas. Alumni yang sukses bukan hanya mereka yang mampu mengangkat nama almamater, tetapi juga mereka yang membuka jalan agar generasi setelahnya memperoleh kesempatan untuk sukses.
Bagi saya, H. Mukhlis telah memberikan contoh bagaimana hubungan alumni dan almamater dapat berkembang dari ikatan emosional menjadi kemitraan produktif dan berkelanjutan.
Kepedulian Sosial sebagai Wajah Kemanusiaan
Dalam perjalanan mengenal H. Mukhlis, saya juga melihat sisi lain yang tidak kalah penting, yakni kepedulian sosialnya.
Beliau dikenal sebagai pengusaha yang dermawan, memiliki perhatian terhadap masyarakat, serta tidak menutup mata terhadap kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
Bagi saya, kedermawanan bukan semata-mata tindakan memberikan sebagian dari apa yang dimiliki. Kedermawanan adalah kemampuan merasakan kebutuhan orang lain, kemudian menghadirkan kepedulian dalam bentuk tindakan.
Dalam kajian kepemimpinan, karakter seperti ini memiliki kedekatan dengan konsep servant leadership, yakni kepemimpinan yang menempatkan pelayanan dan kebermanfaatan bagi orang lain sebagai orientasi utama.
Pengalaman persahabatan saya dengan H. Mukhlis memberikan kesan bahwa perhatian kepada sesama merupakan bagian dari karakter yang telah tumbuh jauh sebelum beliau menduduki jabatan publik.
Sebab, kepedulian yang hadir sebelum seseorang memiliki kekuasaan mempunyai makna tersendiri. Beliau menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak semata-mata lahir karena tuntutan jabatan, melainkan tumbuh dari nilai yang diyakini.
Saya percaya, keberhasilan seseorang tidak seharusnya menjadikannya semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, keberhasilan semestinya memperluas kemampuan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Harta dapat menjadikan seseorang berkecukupan. Jabatan dapat menjadikannya berpengaruh. Tetapi hanya ketulusan yang mampu menjadikan kehadirannya bermakna dalam kehidupan orang lain.
Dari Pengusaha Menjadi Pemimpin Daerah
Sebagai sahabat yang mengenal H. Mukhlis Takabeya jauh sebelum memasuki panggung politik, saya melihat bahwa karakter kepemimpinannya telah terbentuk melalui perjalanan panjang sebagai pengusaha. Ketegasan, keberanian mengambil keputusan, ketekunan, serta kemampuannya membangun dan memelihara hubungan dengan berbagai kalangan menjadi bagian dari karakter yang saya kenal. Di balik sosoknya yang tegas, terdapat perhatian terhadap teman, sahabat, dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ketika H. Mukhlis dipercaya memimpin Kabupaten Bireuen, saya memandangnya sebagai babak baru dari perjalanan pengabdian seorang anak bangsa. Dunia usaha telah menempa dirinya menghadapi tantangan, mengelola sumber daya, menciptakan lapangan pekerjaan, dan membangun kepercayaan. Pengalaman tersebut tentu menjadi modal berharga dalam kepemimpinan daerah, meskipun mengelola pemerintahan memiliki kompleksitas yang berbeda karena menyangkut kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Dalam perspektif saya, kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari ketegasan, keberanian, atau kemampuan menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga dari kebijaksanaan mendengar, merangkul perbedaan, menjaga kepercayaan, dan menghadirkan rasa keadilan. Saya berharap karakter H. Mukhlis yang selama ini dikenal dekat dengan sahabat dan memiliki kepedulian sosial dapat terus menjadi kekuatan dalam membangun hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat.
Sebagai sahabat, saya tentu memiliki harapan besar terhadap perjalanan kepemimpinannya. Bukan semata-mata agar beliau berhasil sebagai seorang bupati, melainkan agar nilai-nilai kemanusiaan yang telah mengantarkannya pada keberhasilan tetap terpelihara di tengah tanggung jawab kekuasaan. Sebab, membangun perusahaan membutuhkan kecerdasan dan keberanian, tetapi membangun daerah membutuhkan kebijaksanaan, keadilan, dan ketulusan. Pada akhirnya, jabatan akan berakhir, tetapi jejak pengabdian akan menemukan tempatnya dalam ingatan masyarakat.
Sang Petarung dari Selatan dan Filosofi Sebuah Perjalanan
Kisah perjalanan H. Mukhlis juga dikenal melalui buku biografi Mukhlis Takabeya: Petarung dari Selatan, karya Muhajir Juli.
Bagi saya, ungkapan tersebut memiliki makna filosofis yang menarik. Seorang petarung tidak selalu identik dengan seseorang yang menaklukkan lawan. Dalam kehidupan, petarung sejati adalah mereka yang berani menghadapi keterbatasan, menaklukkan keraguan, dan mengubah tantangan menjadi peluang.
Dari bangku pendidikan teknik, merintis usaha, mengembangkan industri, hingga memasuki ruang kepemimpinan publik, perjalanan H. Mukhlis memperlihatkan proses transformasi yang tidak sederhana.
Namun, ada satu hal yang menurut saya harus tetap menjadi fondasi setiap perjalanan menuju puncak, yakni kerendahan hati. Karena semakin tinggi pohon menjulang, semakin kuat akar yang dibutuhkannya untuk bertahan menghadapi angin.
Bagi H. Mukhlis, akar itu antara lain adalah keluarga, sahabat, masyarakat, dan almamater yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Saya berharap akar tersebut tetap terpelihara, bahkan ketika tanggung jawab dan tantangan kepemimpinan semakin besar.
Tentang Persahabatan, Keteladanan, dan Warisan Kebaikan
Sebagai seorang sahabat, saya tentu memiliki kebanggaan tersendiri menyaksikan perjalanan H. Mukhlis Takabeya.
Namun, persahabatan yang baik bukanlah persahabatan yang hanya pandai memberikan pujian. Persahabatan yang bermakna juga mengandung doa, harapan, dan tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan.
Saya ingin melihat H. Mukhlis bukan hanya dikenang sebagai pengusaha yang berhasil membangun kelompok usaha besar atau politisi yang mencapai jabatan bupati.
Lebih dari itu, saya berharap beliau kelak dikenang sebagai pemimpin yang mampu memperluas kesempatan, menghadirkan keadilan, memperkuat pendidikan, membuka lapangan pekerjaan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi masyarakat.
Keberhasilan seorang tokoh pada akhirnya tidak hanya tercatat dalam laporan perusahaan, dokumentasi pembangunan, atau lembaran sejarah politik.
Beliau juga hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah dibantu, mahasiswa yang memperoleh kesempatan magang, alumni yang mendapatkan pekerjaan, sahabat yang tetap dihargai, dan masyarakat yang merasakan manfaat kepemimpinannya.
Sebagai sesama alumni PNL, saya melihat perjalanan H. Mukhlis sebagai pesan penting bagi generasi muda bahwa pendidikan vokasi bukanlah jalan sempit menuju dunia kerja, melainkan salah satu pintu besar menuju kepemimpinan, kewirausahaan, dan pengabdian.
Kampus memberikan ilmu dan keterampilan. Kehidupan memberikan ujian. Sementara karakter menentukan bagaimana seseorang menggunakan keberhasilannya.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa ukuran tertinggi dari kesuksesan bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Dan bagi saya, di situlah makna terdalam perjalanan seorang H. Mukhlis Takabeya.
Dari ruang kuliah menuju dunia usaha. Dari dunia usaha menuju panggung kepemimpinan. Dari perjuangan pribadi menuju tanggung jawab sosial yang lebih luas.
Semoga perjalanan itu terus menjadi kisah tentang keberanian, kesetiaan, dan pengabdian.
Sebab, waktu mungkin akan mengakhiri masa jabatan, keadaan dapat mengubah kekayaan, dan sejarah akan terus menghadirkan pemimpin-pemimpin baru.
Namun, kebaikan yang ditanam dengan ketulusan akan tetap hidup, bahkan ketika nama dan jabatan tidak lagi disebut dalam percakapan.
Itulah H. Mukhlis Takabeya di mata saya. Seorang senior, seorang sahabat, seorang petarung kehidupan yang saya harapkan terus tumbuh menjadi pemimpin yang membesarkan banyak orang, tanpa pernah melupakan tempat beliau dahulu dibesarkan.
Penulis:
Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST. MT. CPS. CPPS. CMPS. CCLS. CTRS. CCHS
(Koordinator Humas dan Kerja Sama Politeknik Negeri Lhokseumawe)
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) kembali memperkuat komitmennya dalam pengembangan riset, inovasi,…
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pengembangan teknologi dan…
MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA - Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil, S.E., M.M., atau yang…
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) menerima kunjungan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian…
MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, Panyang S.I.Kom., membuka secara resmi perlombaan…
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) melakukan sosialisasi sekaligus peluncuran aplikasi berbasis web…