AI
*Rachmah Thahirah
OPINI – Pengumuman SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) selalu datang dengan dua suasana yang kontras dan ekstrem, menciptakan garis pemisah yang nyata di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, kita melihat banjir unggahan yang penuh suka cita dengan tangkapan layar berwarna biru yang bertuliskan kata “Selamat,” sebuah validasi atas kerja keras selama tiga tahun di bangku SMA yang disambut dengan rentetan ucapan syukur dari kerabat dan teman. Namun di sisi lain, ada sebuah keheningan yang cukup pekat dari mereka yang tiba-tiba menghilang dari peredaran digital; tidak ada unggahan foto, tidak ada balasan pesan di grup WhatsApp, bahkan beberapa memilih untuk menjauh sejenak dari segala keramaian yang ada. Mereka ini sedang berusaha melakukan tugas yang sangat berat, yaitu mencerna sebuah kenyataan pahit yang meski terlihat sederhana namun sangat sulit diterima: bahwa nama mereka tidak tercantum sebagai peserta yang lolos dalam seleksi prestisius tersebut.
Bagi banyak siswa di Indonesia, SNBP bukan sekadar jalur masuk perguruan tinggi biasa yang bersifat administratif, melainkan sebuah simbol harapan dan martabat yang sudah disusun dengan sangat teliti sejak mereka menginjakkan kaki di kelas sepuluh. Ada bayangan indah tentang kampus impian yang sering mereka bicarakan, jurusan yang mereka idam-idamkan sebagai pintu gerbang karier masa depan, serta sebuah gambaran kehidupan yang seolah sudah mulai terbentuk dan tinggal dijalani saja. Maka, ketika hasil yang muncul di layar justru tidak sesuai dengan harapan, yang runtuh bukan hanya sekadar peluang untuk kuliah di tempat tertentu, melainkan seluruh proyeksi masa depan yang selama ini terasa begitu dekat dan nyata dalam genggaman mereka. Tidak heran jika reaksi pertama yang muncul adalah rasa kecewa yang mendalam, karena secara psikologis, mereka baru saja mengalami kehilangan atas sesuatu yang bahkan belum sempat mereka miliki secara fisik, namun sudah mereka miliki secara emosional.
Fenomena ini menjadi sangat menarik untuk diamati lebih jauh, terutama ketika kita melihat apa yang terjadi setelah fase kekecewaan awal itu mereda. Jika kita teliti, banyak siswa sebenarnya sudah memiliki apa yang disebut dalam psikologi sebagai goal intention atau niat tujuan yang sangat kuat, di mana mereka tahu persis ke mana arah hidup yang ingin mereka tempuh dan apa yang ingin mereka capai di masa depan. Niat ini sering kali didukung oleh motivasi yang luar biasa besar dan semangat yang berapi-api untuk sukses. Namun, masalah fundamental yang sering muncul dalam dunia pendidikan kita adalah bahwa banyak orang berhenti hanya sampai pada tahap niat ini saja tanpa menyadari bahwa niat, sehebat apa pun itu, masih berada di level yang sangat abstrak dan umum.
Niat memang menjadi bahan bakar utama untuk memulai sebuah perjalanan, tetapi ia belum bisa menjawab pertanyaan yang paling krusial ketika perjalanan itu menemui jalan buntu: “Apa yang akan aku lakukan ketika rencana utamaku gagal total?” Akibat dari absennya jawaban atas pertanyaan ini adalah hilangnya arah ketika pengumuman SNBP memberikan hasil yang mengecewakan. Banyak siswa yang akhirnya terjebak dalam jeda waktu yang terlalu panjang untuk sekadar meratapi keadaan, membanding-bandingkan nasib mereka dengan teman-teman yang lolos, atau mempertanyakan kemampuan intelektual mereka sendiri secara berlebihan. Tanpa mereka sadari, mereka sedang terjebak dalam sebuah ruang hampa antara keinginan untuk maju dan ketidakmampuan untuk menentukan langkah pertama untuk bangkit.
Di sinilah pemikiran dari Peter M. Gollwitzer, seorang profesor psikologi yang ahli dalam bidang motivasi, menjadi sangat relevan dan memberikan perspektif baru yang lebih praktis. Gollwitzer melalui teorinya yang dikenal sebagai Model of Action Phases atau Model Rubicon, menjelaskan bahwa ada perbedaan yang sangat kontras antara sekadar memiliki niat dengan memiliki rencana tindakan yang konkret. Gollwitzer membagi proses pencapaian tujuan ke dalam beberapa fase, namun poin yang paling penting bagi para pejuang SNBT adalah transisi dari fase deliberatif (menimbang-nimbang tujuan) ke fase implemental (melaksanakan tindakan).
Jika goal intention hanya menjawab pertanyaan tentang “apa yang diinginkan,” maka Gollwitzer memperkenalkan konsep yang lebih tajam yang disebut sebagai implementation intention atau niat implementasi. Konsep ini menjawab pertanyaan tentang “kapan, di mana, dan bagaimana” seseorang akan bertindak, terutama dalam menghadapi rintangan atau kegagalan. Niat implementasi ini bekerja dengan cara menciptakan sebuah struktur rencana yang sangat spesifik dan langsung bisa dieksekusi secara otomatis oleh otak kita tanpa perlu banyak berpikir lagi. Bentuknya biasanya mengikuti format logis yang sederhana namun kuat: “Jika situasi X terjadi, maka saya akan melakukan tindakan Y.”
Penerapan teori ini dalam konteks pasca-pengumuman SNBP akan sangat membedakan hasil akhir dari dua orang siswa. Bayangkan seorang siswa yang sudah menyiapkan niat implementasi jauh sebelum hari pengumuman tiba; ia mungkin berkata pada dirinya sendiri, “Jika aku tidak lolos SNBP, maka besok pagi jam delapan aku akan segera pergi ke perpustakaan untuk mulai mengerjakan latihan soal UTBK-SNBT.” Dengan rencana yang sespesifik ini, ketika kegagalan itu benar-benar terjadi, ia tidak perlu lagi menghabiskan terlalu banyak energi mental yang berharga untuk berdebat dengan rasa malasnya atau tenggelam dalam kebingungan tentang harus mulai dari mana. Ia tinggal menjalankan prosedur “otomatis” yang sudah ia putuskan sebelumnya, sehingga proses pemulihan mentalnya menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Sebaliknya, tanpa adanya implementation intention, kegagalan dalam SNBP akan terasa berkali-kali lipat lebih berat. Hal ini terjadi bukan hanya karena hasil seleksinya yang menyakitkan, melainkan karena tidak adanya pegangan konkret untuk bergerak maju. Segala sesuatu di masa depan terasa menggantung dan tidak pasti. Keinginan untuk mencoba lagi lewat jalur lain mungkin ada, tapi ia tetap menjadi sebuah niat yang mengambang tanpa kaki untuk melangkah. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa dua orang dengan tingkat kemampuan akademik yang tidak jauh berbeda bisa menunjukkan respons yang sangat bertolak belakang terhadap sebuah kegagalan yang sama. Yang satu mampu segera bangkit dan menyusun langkah baru dengan presisi, sementara yang lain tertahan cukup lama dalam labirin kebingungan dan rasa sedih yang berlarut-larut.
Secara lebih luas, fenomena pasca-SNBP ini sebenarnya adalah sebuah kritik halus terhadap sistem pendidikan kita yang sering kali terlalu fokus mendorong siswa untuk memiliki cita-cita yang setinggi langit, namun lupa membekali mereka dengan keterampilan untuk merencanakan tindakan taktis ketika kenyataan tidak sejalan dengan ekspektasi. Kita sangat piawai dalam mengajarkan cara meraih kesuksesan, tetapi kita masih sangat gagap dalam mengajarkan cara mengelola kegagalan secara logis dan produktif. Kita seolah-olah berasumsi bahwa semua siswa akan selalu berhasil pada kesempatan pertama, sehingga ketika mereka jatuh, mereka tidak tahu cara mendarat yang benar agar tidak mengalami cedera mental yang serius.
Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya kita mulai menggeser paradigma dari sekadar memberikan motivasi yang sifatnya abstrak menuju pemberian pembekalan yang lebih bersifat strategis. Menyiapkan siswa untuk menghadapi kemungkinan terburuk bukanlah sebuah bentuk pesimisme, melainkan sebuah bentuk kesiapan mental yang matang. Dengan memiliki rencana tindakan yang konkret, seorang siswa sebenarnya sedang membangun sebuah jembatan di atas jurang kekecewaan yang mereka alami. Kegagalan di jalur SNBP tidak seharusnya dianggap sebagai akhir dari segalanya, karena realitanya kesempatan masih terbuka lebar melalui jalur-jalur lain yang tak kalah berkualitasnya. Hanya saja, peluang-peluang baru itu sering kali tidak terlihat oleh mereka yang matanya masih tertutup oleh kabut kesedihan akibat tidak memiliki rencana cadangan.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari teori Peter M. Gollwitzer ini adalah bahwa kekuatan manusia tidak hanya terletak pada seberapa besar mimpinya, tetapi pada seberapa siap ia dengan langkah berikutnya ketika mimpi itu harus tertunda atau berganti arah. Keberhasilan untuk menyeberangi “Sungai Rubicon” menuju dunia perkuliahan membutuhkan lebih dari sekadar niat yang kuat; ia membutuhkan rencana tindakan yang sangat tajam dan spesifik. Gagal dalam SNBP hanyalah sebuah sinyal bahwa kita harus segera beralih dari fase meratapi nasib menuju fase eksekusi yang lebih disiplin. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang tetap melangkah dan mencapai garis finis bukan hanya seberapa besar keinginannya untuk berhasil, melainkan seberapa tangguh ia dalam mengubah rasa kecewa menjadi serangkaian aksi nyata yang terukur. Dengan begitu, kegagalan bukan lagi menjadi penghalang, melainkan hanya sebuah pengalihan jalur menuju tujuan yang sama, namun dengan pribadi yang jauh lebih siap dan dewasa dalam menghadapi dinamika kehidupan.(*)
*Rachmah Thahirah, Magister Sains Psikologi, Universitas Brawijaya
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kebersihan dan kelestarian…
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe melalui program Kajian Rupiah Bersama Bank Indonesia…
MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Di tengah lanskap sosial Aceh Utara yang terus bergerak, di antara…
MerdekaBicara - Aceh Besar | Pengadilan Negeri (PN) Jantho resmi melantik tiga pejabat Panitera Muda…
MERDEKABICARA.COM | PIDIE - Kapolda Aceh Irjen Pol Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M. melaksanakan kunjungan…
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang diukur dengan beton, aspal, dan angka-angka…