Categories: Lingkungan

Burung Kacer Sudah Langka di Aceh Barat

BLANGPIDIE | MERDEKABICARA.COM – Keberadaan burung jenis Kacer (Copsychus saularis) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh, sudah langka akibat adanya aktivitas penangkapan liar secara berlebihan oleh masyarakat.

“Masyarakat perdesaan sudah jarang mendengar suara kicauan merdu yang bersahut-sahutan di pagi hari. Sudah beberapa tahun terakhir akibat penangkapan berlebihan,”kata Lismadi (35) warga Desa Jumpa, Kecamatan Jeumpa Abdya, di Blangpidie, Rabu (9/8).

Burung Kacer atau lebih dikenal dengan sebutan Kacaci Kampung (bahasa Aceh, Ticem Pala) adalah jenis burung berwarna hitam putih dengan ekor panjang, jenis burung itu termasuk kelompok keluarga Murai batu. Lismadi melanjutkan penangkapan secara berlebihan di alam terbuka dilakukan semenjak harga burung Kacer mahal dibeli oleh agen ataupun penampung untuk peliharaan dan bahkan tidak sedikit diangkut ke kota Medan untuk diperjual-belikan.

“Di kota Blangpidie saja harga jualnya sudah mencapai Rp 230 ribu per ekor untuk Kacer yang belum makan umpan toko. Kalau yang sudah makan pakan pabrik, harganya mencapai Rp 300 ribu per ekor,” ungkapnya.

Ia menyatakan, selama harga burung Kacer mahal, tidak sedikit masyarakat petani di desa-desa beralih profesi menangkap burung di kawasan hutan dan di kebun-kebun untuk dijual ke pasar, sehinga keberadaan burung di perdesaan menjadi langka. “Dulu, burung ini ada di mana-mana. Dilingkungan penduduk banyak kita temui burung jenis ini terutama di atas pohon-pohon pala. Makanya orang Aceh memberi nama Ticem Pala, karena dia suka terbang-terbang di atas pohon pala itu,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Hasyim Umar warga Desa Tokoh II, kecamatan Lembah Sabil. Menurut dia, burung jenis tersebut kini sudah sangat langka, bahkan tidak terlihat lagi di kawasan permukiman dan di kawasan hutan-hutan desa.

“Kalau sekarang ini ingin kita melihat burung jenis Murai itu di pasar-pasar banyak atau di rumah-rumah warga yang memelihara dalam sangkar. Kalau di alam bebas di kawasan desa-desa tidak ada lagi, sudah langka,” ujarnya.

Umar menceritakan, dahulu ketika pagi hari tiba, geliat alam desa sangat terasa diawali dengan berkokoknya ayam jago, kemudian disusul kicauan Kacer yang merdu dan riuh bersahut-sahutan seolah-olah membawa kabar gembira pagi hari sudah tiba.

Menurut dia, terjadinya kelangkaan burung di desa-desa dalam kabupaten Abdya, khususnya dan umumnya Indonesia di karenakan populasinya semakin hari terus berkurang akibat maraknya penangkapan liar.

Ia berharap pemerintah membuat sebuah aturan tentang pelarangan penangkapan burung jenis tersebut, supaya kedepan semua jenis burung bisa berkembang biak kembali tanpa ganguan manusia. “Saya selaku masyarakat desa juga berharap para aktifis LSM yang peduli terhadap lingkungan agar mau turun tangan. Jangan orangutan saja yang dilindungi, tapi semua jenis burung perlu juga diselamatkan dari ancaman kepunahan,”harapnya.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Daya Alam (BKSDA) wilayah II Hadi Sofyan mengakui populasi burung jenis Murai batu (Kacer) sudah mulai langka di kawasan Aceh bahagian selatan karena banyaknya peminat untuk dipelihara.

Meskipun burung tersebut belum dilindungi oleh pemerintah, namun, upaya perlindungan terus dilakukan oleh BKSDA dengan cara sosialisasi dan meminta Pemerintah Daerah membuat qanun (Perda) larangan menangkap burung agar populasinya tetap terjaga. “Semua jenis burung Murai itu belum termasuk hewan yang dilindungi sebagaimana dalam peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Makanya peredaraanya sudah kurang karena banyaknya peminat,” ujarnya.

Meski demikian BKSDA akan terus melakukan upaya pengawasan dengan membatasi kuota pengiriman dari Aceh ke luar daerah dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, sekaligus menyampaikan nama-nama satwa yang dilindungi.

SUMBER : REPUBLIKA

Recent Posts

PNL Kukuhkan 1.655 Mahasiswa Baru, Direktur: Kampus Ini Kawah Candradimuka untuk Menempa Masa Depan

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE -: Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) mengukuhkan 1.655 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 dalam…

2 hari ago

Peringati 21 Tahun Damai Aceh, Belasan Ribu Warga Berkumpul di Lhoksukon

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Belasan ribu masyarakat dari berbagai elemen memadati halaman Kantor Bupati Aceh…

3 hari ago

Prodi Akuntansi Sektor Publik PNL Raih Akreditasi Unggul LAMEMBA, Teguhkan Komitmen Mutu Pendidikan Vokasi

MERDEKABICARA.COM |  LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) kembali menorehkan capaian penting dalam perjalanan penguatan…

5 hari ago

FMIPA Unsri Kembangkan EL-SIBERUNG Berbasis AI, Perkuat Kompetensi Guru Pendidikan Khusus

MERDEKABICARA.COM | PALEMBANG -  Teknologi kecerdasan buatan mulai membuka ruang baru dalam pendidikan khusus. Bukan…

6 hari ago

Mahasiswi Jurusan Bisnis PNL Raih Dua Juara di International Business Administration Competition 2026

MERDEKABICARA.COM | BANDUNG -Dua mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis, Jurusan Bisnis, Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL)…

6 hari ago

Pemkab Aceh Utara Kucurkan Rp11,2 Miliar untuk Pemulihan Pasca-Bencana Tahap III

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara menyalurkan bantuan pasca-bencana tahap III untuk…

7 hari ago