MERDEKABICARA.COM | PALEMBANG – Teknologi kecerdasan buatan mulai membuka ruang baru dalam pendidikan khusus. Bukan sekadar menghadirkan perangkat digital, teknologi kini diarahkan untuk membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif, visual, interaktif, dan ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Semangat itulah yang melandasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sriwijaya (Unsri) mengembangkan EL-SIBERUNG (E-Learning Sistem Belajar Ramah Tuna Rungu) sebuah platform pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) yang ditujukan untuk memperkuat kompetensi guru anggota Kelompok Kerja Guru Pendidikan Khusus (KKG-PK) Zona Palembang.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Kompetensi Guru KKG-PK Zona Palembang melalui Pengembangan EL-SIBERUNG sebagai E-Learning Ramah Tuna Rungu Berbasis AI.” Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan teknologi dalam pendidikan khusus melalui kolaborasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Unsri, KKG-PK Zona Palembang, dan SLB Negeri Pembina Palembang.
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap sejak Juni hingga September 2026, dengan peluncuran EL-SIBERUNG pada 6 Agustus 2026 di SLB Negeri Pembina Palembang. Program diikuti guru-guru SLB-B dari sejumlah sekolah di wilayah Palembang dan sekitarnya, antara lain SLB Negeri Pembina Palembang, SLB Negeri Hayza Nur Ilmi, SLB YPAC, SLB Negeri Banyuasin, dan SLB OPI Jakabaring.
Peluncuran dibuka oleh Dekan FMIPA Unsri, Prof. Hermansyah, S.Si., M.Si., Ph.D., dan dihadiri Ketua KKG-PK Zona Palembang AA Engkus Mulyana, S.Pd., Kepala SLB Negeri Pembina Palembang Sri Warih Handayani, S.Pd., para guru anggota KKG-PK Zona Palembang, serta mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan.
Program ini diketuai Assoc. Prof. Dr. Anita Desiani, S.Si., M.Kom., dengan Prof. Dr. Yusuf Hartono, M.Sc. dan Assoc. Prof. Dian Palupi Rini, M.Kom., Ph.D. sebagai anggota tim pelaksana.
Menurut Anita Desiani, pengembangan EL-SIBERUNG berangkat dari kebutuhan menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan karakteristik peserta didik tunarungu. Teknologi AI, kata dia, tidak semestinya berhenti sebagai simbol kemajuan digital, tetapi harus ditempatkan sebagai instrumen yang membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, visual, interaktif, dan inklusif.
“EL-SIBERUNG dikembangkan dengan mengintegrasikan materi visual, video pembelajaran, media interaktif, serta teknologi _Artificial Intelligence_ (AI),” kata Anita.
Menurutnya, perpaduan berbagai teknologi tersebut memberi guru lebih banyak pilihan dalam menyusun dan menyampaikan materi pembelajaran. Peserta didik pun memperoleh ruang belajar yang lebih sesuai dengan cara mereka menerima, memahami, dan mengolah informasi.
Namun, Anita menegaskan bahwa teknologi tidak akan menemukan maknanya tanpa guru yang mampu menggunakannya secara tepat. Karena itu, program ini tidak berhenti pada peluncuran platform, tetapi dilanjutkan dengan rangkaian pelatihan dan pendampingan yang berlangsung secara bertahap hingga September 2026.
Para guru dibekali kemampuan menggunakan _e-learning_, menyusun konten pembelajaran digital berbasis visual, serta memanfaatkan AI untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih inklusif. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun keberanian guru untuk mengeksplorasi teknologi sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Guru merupakan aktor penting dalam memastikan teknologi benar-benar memberi dampak di ruang kelas. Platform digital hanyalah alat. Kualitas pembelajaran tetap sangat bergantung pada kemampuan guru membaca kebutuhan peserta didik, menerjemahkannya ke dalam materi yang tepat, dan memanfaatkan teknologi secara kreatif,” terangnya.
Anita mengatakan, EL-SIBERUNG juga diarahkan menjadi ruang belajar bersama bagi guru KKG-PK Zona Palembang. Platform tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi tempat mengakses materi, tetapi berkembang sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik antar guru dari berbagai SLB.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan khusus menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut. Universitas Sriwijaya menghadirkan dukungan keilmuan dan teknologi, sementara KKG-PK Zona Palembang bersama SLB Negeri Pembina dan sekolah-sekolah peserta membawa pengalaman langsung dari ruang kelas. Dukungan Kemendiktisaintek menjadi bagian dari ekosistem yang mendorong inovasi tersebut agar dapat memberi dampak lebih luas.
Atas dukungan dan kolaborasi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA Unsri menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kemendiktisaintek, Unsri, KKG-PK Zona Palembang, serta SLB Negeri Pembina Palembang atas kepercayaan, dukungan, dan keterlibatan aktif selama pelaksanaan program. Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan EL-SIBERUNG tidak berhenti sebagai sebuah inovasi teknologi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi sarana pembelajaran yang memberi manfaat bagi guru dan peserta didik tunarungu.
“Saya berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru pendidikan khusus tidak berhenti setelah program pengabdian selesai,” ungkapnya.
Harapan tersebut sekaligus menegaskan bahwa inovasi pendidikan membutuhkan kesinambungan. Teknologi dapat membuka pintu, tetapi gurulah yang menentukan bagaimana pintu itu digunakan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.
Anita berharap EL-SIBERUNG dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak berhenti sebagai produk teknologi. Lebih dari itu, platform tersebut diharapkan tumbuh menjadi bagian dari praktik pembelajaran sehari-hari yang memberi manfaat nyata bagi guru dan peserta didik tunarungu.
Pada akhirnya, menurut Anita, keberhasilan sebuah inovasi tidak semata-mata diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu membuka kesempatan belajar yang lebih luas.
Di titik itulah teknologi menemukan maknanya, bukan sekadar mesin yang bekerja di balik layar, melainkan jembatan yang membantu guru menjangkau setiap peserta didik, termasuk mereka yang membutuhkan cara berbeda untuk menemukan pintu menuju pengetahuan. {}



