MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA – Ada bantuan yang selesai ketika diserahkan, tetapi ada pula kepedulian yang terus hidup setelah tangan-tangan berpisah. Semangat itulah yang dibawa Dharma Wanita Persatuan (DWP) Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) dalam memperingati Hari Anak Nasional melalui kegiatan Mengajar, Berbagi, dan Penyaluran Donasi bertema “Bersama Mewujudkan Senyum dan Semangat Belajar Anak Indonesia.”
Kegiatan dipusatkan di dua sekolah di Kabupaten Aceh Utara, yakni SD Negeri 5 Lhoksukon dan SD Negeri 5 Baktiya. Kehadiran DWP PNL tidak hanya membawa bantuan bagi anak-anak yang terdampak musibah banjir Aceh, tetapi juga menghadirkan ruang belajar, kebersamaan, motivasi, dan sentuhan kepedulian untuk menguatkan kembali semangat mereka menatap masa depan.
Ketua DWP PNL Nyonya Nadia Sartika Rizal Syahyadi. mengatakan, peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum penting bagi DWP PNL untuk meneguhkan perannya sebagai organisasi yang tidak hanya tumbuh dalam kebersamaan, tetapi juga hadir dan memberi manfaat nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, DWP PNL ingin datang bukan semata-mata membawa identitas sebuah organisasi, tetapi membawa naluri seorang ibu yang ingin melihat anak-anak tetap tersenyum, bersekolah, belajar, dan berani menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin.
“DWP bukan hanya ruang untuk berhimpun dan menjalankan program organisasi. DWP adalah ruang pengabdian, ruang untuk berbagi, ruang untuk mendidik, dan ruang untuk menghadirkan kasih sayang dalam tindakan nyata. Kami ingin keberadaan DWP PNL tidak hanya terlihat melalui nama, tetapi terasa melalui manfaatnya,” ujar Nadia.
Ia menuturkan, musibah banjir boleh meninggalkan jejak pada kehidupan anak-anak, tetapi tidak boleh mengambil sesuatu yang paling berharga dari mereka: harapan dan cita-cita.
“Banjir boleh merendam halaman sekolah, tetapi jangan pernah membiarkannya menenggelamkan impian. Air boleh membawa pergi sebagian yang kita miliki, tetapi jangan pernah membiarkannya membawa pergi semangat untuk belajar. Setelah air surut, kehidupan harus kembali tumbuh; setelah hujan berhenti, matahari akan kembali menemukan jalannya,” ungkapnya.
*Kepedulian Kemdiktisaintek untuk Anak-Anak Aceh Utara*
Dalam kegiatan tersebut, DWP PNL menyalurkan bantuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek) berupa tas sekolah, buku, alat tulis, serta berbagai perlengkapan sekolah lainnya. Sementara DWP PNL turut melengkapi kepedulian tersebut dengan menyerahkan Al-Qur’an dan mukena untuk sekolah.
Atas perhatian tersebut, Ketua DWP PNL menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kemdiktisaintek yang telah menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak terdampak banjir di Aceh, khususnya para siswa yang membutuhkan dukungan untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan penuh semangat.
Menurut Nadia, bantuan tersebut memiliki makna yang jauh melampaui nilai materi yang diberikan.
“Sebuah tas mungkin hanya tempat menyimpan buku, tetapi di pundak seorang anak ia membawa cita-cita. Sebuah buku mungkin hanya terdiri dari lembaran kertas, tetapi ketika dibaca ia membuka jendela dunia. Al-Qur’an menjadi cahaya yang menuntun perjalanan kehidupan, sementara mukena mudah-mudahan menjadi teman dalam sujud dan doa mereka kepada Allah Swt.,” tuturnya.
DWP PNL berharap sinergi dan kepedulian yang telah dibangun bersama Kemdiktisaintek tersebut dapat terus berlanjut dan menjadi program yang dilaksanakan secara berkesinambungan setiap tahun, sehingga manfaatnya dapat menjangkau semakin banyak anak dan sekolah yang membutuhkan.
Tidak Hanya Berbagi, DWP PNL juga turun mengajar dan memberikan inspirasi untuk anak-anak sekolah. Kegiatan ini tidak berhenti pada prosesi penyerahan bantuan. Setelah agenda tersebut, para pengurus DWP PNL melanjutkan Program DWP Mengajar, dengan turun langsung berinteraksi bersama para siswa-siswi.
Melalui program ini, pengurus DWP PNL berbagi pengetahuan, pengalaman, motivasi, serta membangun suasana belajar yang menyenangkan bersama anak-anak. DWP PNL ingin bantuan yang diberikan tidak hanya menjadi sesuatu yang dapat dibawa pulang, tetapi juga meninggalkan pengetahuan dan semangat yang dapat dibawa menuju masa depan.
“Bagi kami, mengajar bukan sekadar menyampaikan apa yang kita ketahui. Mengajar adalah menyalakan cahaya agar seorang anak berani melihat masa depannya. Mungkin kebersamaan hari ini akan berlalu, tetapi siapa tahu ada satu kalimat, satu nasihat, atau satu cerita yang mereka ingat hingga dewasa dan membuat mereka berkata: saya harus sekolah, saya harus belajar, dan saya harus berhasil,” kata Nadia.
Kegiatan turut dihadiri Wakil Ketua DWP PNL beserta jajaran pengurus DWP PNL. Rangkaian acara dipandu oleh pengurus DWP PNL, sehingga suasana kegiatan berlangsung hangat, dekat, dan penuh kekeluargaan.
Kebersamaan para pengurus DWP PNL dengan siswa menjadi warna tersendiri. Ruang sekolah yang biasanya diisi rutinitas pembelajaran berubah menjadi ruang perjumpaan antara kepedulian, pengetahuan, inspirasi dan kegembiraan. Ada ilmu yang dibagikan, ada cerita tokoh inspiratif yang dituturkan, dan ada senyum anak-anak yang menjadi bahasa paling sederhana tentang arti sebuah kepedulian.
*Terima Kasih untuk Guru yang Menjaga Nyala Harapan*
Ketua DWP PNL juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada kepala sekolah, dewan guru, tenaga kependidikan, serta seluruh siswa SD Negeri 5 Lhoksukon dan SD Negeri 5 Baktiya yang telah menyambut kehadiran DWP PNL dengan penuh kehangatan.
Secara khusus, apresiasi diberikan kepada para guru yang tetap berada di garis depan pendidikan, mendampingi anak-anak dalam berbagai keadaan, termasuk setelah musibah banjir.
“Guru mungkin tidak selalu dapat melihat ke mana seluruh muridnya akan melangkah. Tetapi dari tangan seorang gurulah, seorang anak pertama kali belajar mengeja masa depan. Guru tidak hanya menulis di papan tulis, tetapi sesungguhnya beliau sedang menulis di dalam kehidupan. Guru mengajarkan huruf dan angka, tetapi sesungguhnya sedang membangun generasi bangsa,” ujarnya.
Nadia juga mengajak seluruh pengurus DWP PNL untuk terus menjaga semangat pengabdian dan menjadikan DWP sebagai organisasi yang kuat dalam kebersamaan, lembut dalam kepedulian, serta nyata dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.
Menurutnya, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu kegiatan. Namun setiap orang selalu memiliki pilihan untuk tidak berpaling ketika melihat sesama membutuhkan uluran tangan.
Satu tas dapat membawa harapan. Satu buku dapat membuka cakrawala. Satu Al-Qur’an dapat menuntun kehidupan. Satu mukena dapat menemani sebuah sujud. Satu pelajaran dapat melahirkan cita-cita. Dan satu sentuhan kepedulian dapat tinggal lama dalam ingatan seorang anak.
DWP PNL berharap suatu hari nanti, ketika anak-anak yang ditemui hari ini telah tumbuh dewasa dan mencapai cita-citanya, mereka akan mengingat bahwa pernah ada sebuah hari ketika banyak tangan datang membawa satu pesan sederhana: masa depan mereka berharga dan layak diperjuangkan.
“Ketika kelak Allah memberikan keberhasilan kepada kalian, lakukanlah hal yang sama. Ulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, bagikan ilmu kepada mereka yang belum mengetahui, dan jadilah alasan bagi orang lain untuk kembali memiliki harapan. Karena kebaikan yang sesungguhnya tidak berhenti pada tangan yang menerima; ia akan terus hidup ketika suatu hari tangan itu kembali memberi,” pesan Nadia.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional ini, DWP PNL meneguhkan komitmen untuk terus hadir melalui pendidikan, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab ketika kita menjaga senyum seorang anak hari ini, sesungguhnya kita sedang menjaga harapan Indonesia untuk hari esok. {}



