Categories: News

Saat Air Tak Lagi Mengalir, Ribuan Petani Aceh Utara Terancam Kehilangan Hidup

Merdeka Bicara – Aceh Utara | Pagi di Kecamatan Geureudong Pase biasanya dimulai dengan derap langkah petani menuju sawah. Namun musim tanam kali ini, hamparan tanah seluas ribuan hektare itu justru terhampar kering dan sunyi. Air tak lagi mengalir, cangkul tak lagi diayun. Harapan petani tertimbun bersama lumbur yang menghilagan fungsi Irigasi Leubok Guha.

Hampir 1.600 hektare sawah di kawasan ini terancam gagal tanam. Banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November lalu menyisakan endapan lumpur tebal yang menutup saluran irigasi utama. Sejak saat itu, air tak lagi mencapai sawah-sawah warga.

“Irigasi Leubok Guha tidak bisa dialiri air karena tertimbun lumpur akibat banjir bandang November lalu,” kata Tarmizi, Mukim Pante Raja Mbang, Kecamatan Geureudong Pase, saat ditemui di sela aktivitasnya.

Bagi masyarakat tani di kemukiman Pante Raja Mbang, kerusakan irigasi ini bukan sekadar persoalan teknis. Sawah adalah sumber hidup. Ketika air berhenti mengalir, mata pencaharian ikut terhenti.

“Ini musibah besar bagi petani. Kami tidak bisa turun ke sawah pada musim tanam ini,” ujar Tarmizi dengan nada lirih.

Mukim Tarmizi

Saluran irigasi yang rusak berada di Gampong Pulo Meuria. Dari titik inilah air biasanya mengalir ke sawah-sawah di empat desa, yakni Gampong Pulo Meuria, Gampong Krueng Mbang, Gampong Dayah Seupeng, dan Gampong Peudari. Total luas lahan yang bergantung pada irigasi tersebut mencapai 1.576 hektare.

Tanpa air, lahan-lahan itu kini berubah menjadi hamparan tanah keras yang retak. Sebagian petani hanya bisa menunggu, sebagian lain terpaksa mencari pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup.

Meski tim dari pemerintah telah turun ke lapangan, hingga kini belum ada perbaikan nyata. Tarmizi mengaku warga hanya menerima janji tanpa kepastian waktu.

“Tim verifikasi dari provinsi sudah turun ke lapangan, tapi sampai sekarang belum ada jawaban kapan akan diperbaiki,” katanya, menyimpan kekecewaan.

Ia menilai perbaikan seharusnya dapat dilakukan lebih cepat karena kerusakan irigasi disebabkan oleh bencana alam. Menurutnya, pemerintah bisa menggunakan anggaran tanggap darurat bencana untuk menangani kondisi tersebut.

“Setidaknya ada anggaran tanggap darurat. Prosesnya sangat lamban dari pihak pemerintah,” tutup Tarmizi.

Sementara lumpur masih menutup saluran irigasi, para petani Geureudong Pase hanya bisa berharap. Harapan agar air kembali mengalir, agar sawah kembali hijau, dan agar kehidupan mereka tidak ikut terkubur bersama endapan banjir bandang. (*)

Recent Posts

Menyiapkan Diri Menghadapi Masa Depan Industri, Teknik Mesin PNL Gelar Kuliah Umum Bersama Deputi Operasi BPMA

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) menggelar Kuliah Umum atau Guest…

4 jam ago

Pemdes Ceubrek Tingkatkan Pelayanan Posyandu Lewat Dana Desa

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Pemerintah Desa Ceubrek, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara terus memperkuat…

10 jam ago

Wabup Aceh Utara Resmi Buka Uji Kompetensi Konstruksi

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE – Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, S.I.Kom., secara resmi membuka kegiatan Pelatihan…

12 jam ago

Pemdes Leuhong Gelar Khanduri Blang, Sambut Musim Tanam Padi

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Pemerintah Desa Leuhong, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, menggelar tradisi Khanduri…

1 hari ago

Ada Apa di Desa Tanjong Mesjid? Ini Kata Keuchik Yani

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Geuchik Gampong Tanjong Mesjid, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, M.…

1 hari ago

Dikukuhkan di Pendopo Gubernur Aceh, Pengurus PDGI Aceh Utara 2025–2030 Siap Mengabdi untuk Senyum Sehat Masyarakat

MERDEKABICARA.COM | BANDA ACEH - Semangat baru mewarnai perjalanan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) di…

2 hari ago