Categories: Pariwisata

Pesona Wisata, Sekeping Surga di Pulo Aceh

MERDEKABICARA.COM | ACEH BESAR – Pesona yang ada di Pulo Aceh selayaknya surga. Pemandangan lebatnya hutan yang bersisian di birunya lautan adalah suatu yang istimewa. “Tidak pernah kita lihat di mana pun,” ujar Dyah.

Hutan di Pulo Aceh masih lestari. Anda dengan mudahnya menemukan sepasang rangkong (buceros), sejenis burung langka yang punya paruh tanduk sapi atau elang yang terbang tak terlalu tinggi.

Dyah, istri Plt Gubernur Aceh saat berkunjung ke Pulo Aceh pada Sabtu di penghujung Juli 2020 bersama seratusan rombongan pesepeda, dalam acara Gowes Bersama Forkopimda Aceh. Ikut dalam rombongan tersebut Panglima Kodam Iskandar Muda serta Waka Polda Aceh.

Mendayung dari Dermaga Perikanan BPKS di Gampong Ulee Paya pada pagi hari, peserta akan menempuh rute yang berliku. Mulai dari pegunungan, hutan hingga pinggiran pantai. Jalur yang amat terjal membuat banyak pesepeda yang ‘tumbang’ sebelum sempat menyentuh rute akhir di Mercusuar William’s  Torrent.

Dari Ulee Paya ke William’s Torrent harus melewati 6 gampong atau desa sebelum sampai di Meulingge, desa tempat mercusuar berada. Jaraknya sekitar 20 kilometer. Memang rutenya agak sulit ditempuh jika fisik tidak prima. Namun begitu tiba di mercusuar, letih akan berkurang saat anda menikmati panorama pantai dan gunung dari ketinggian.

Saat menanjak satu per satu anak tangga yang dipasang melingkar, anda seperti diajak masuk ke lorong waktu. Bau pengap dan bagai terkurung dalam sebuah lorong. Tanjak lah perlahan. Rasakan angin yang masuk lewat jendela-jendela kecil yang dibuat pada beberapa bagian di sekeliling mercusuar. Saat menginjak tangga akhir dan keluar di pucuk menara, anda akan lupa rasa letih. Angin di ketinggian 85 meter di atas permukaan laut berhembus perlahan. Jika ada lantunan musik dan gelak tawa maka akan terdengar nyaring, dibawa angin.

Dari pucuk menara, arahkan pandangan ke Samudera Hindia membentang luas, hingga berbatas pandangan mata. Dari sanalah, puluhan, bahkan ratusan kapal melintas setiap harinya. Laut di Meulingge, berbatas langsung dengan lintasan internasional.

“Ini yang pertama sekali. Luar biasa keindahannya. Yang kita rasakan sesuai dengan apa yang diceritakan,” kata Dyah. Sebelumnya ia hanya mendengar cerita-cerita keindahan pulau di ujung Sumatera ini. Namun kini ia berkesempatan datang menikmatinya langsung.

Mercusuar William’s Torrent dibangun Kolonial Belanda di nusantara pada tahun 1875. Bangunan bergaya eropa ini, didirikan di atas cadas yang curam dan menjorok langsung ke laut. Masyarakat sekitar menyebut mercusuar dengan nama lampu. Tebal bangunannya mencapai satu meter, dengan ketinggian 85 meter.

Konon, mercusuar ini hanya ada tiga di dunia. Pasangannya, di Kepulauan Karibia, yang menjadi tempat penggarapan film Pirates of Caribian. Sementara yang satunya lagi, telah dijadikan museum di Belanda. Nama William’s Torren, diambil dari nama Raja Luxemburg, Willem Alexander Paul Frederich Lodewijk. Pada masa itu, ia dikenal sebagai raja yang ikut membangun perekonomian dan infrastruktur daerah kekuasaan Hindia Belanda. Karena itu, nama dia disematkan di Mercusuar di Meulingge.

Dibangunnya mercusuar, sebagai persiapan pembangunan pelabuhan Sabang, yang menjadi lintas selat malaka. Saat itu, Pelabuhan di Sabang menjadi tempat persinggahan kapal-kapal kolonial.

Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Hasanuddin, menyebutkan bahwa Pulo Aceh sangat punya potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.

“Setelah tiba di sini saya melihat potensi yang sangat bagus. Pantainya begitu bagus. Tentunya pemerintah daerah punya rencana bagus untuk pembangunan Pulo Aceh ini,” kata Hasanuddin.

Hasanuddin menyebutkan, usai sukses menggelar acara di Pulo Aceh, jajaran Forkopimda Aceh bakal menyasar daerah-daerah lain di Aceh. Gagasan pimpinan mengunjungi daerah dinilai sangat bagus. Di samping melihat kondisi daerah, tentu kunjungan tersebut dapat berdampak pada peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Sementara Dyah memandang, kunjungan petinggi daerah ke wilayah pedalaman yang punya potensi wisata seperti Pulo Aceh sangatlah bagus. Mereka punya koneksi-koneksi di luar Aceh yang tentunya bakal mengampanyekan keindahan alam.

“Kita doakan covid segera berlalu, nanti Pangdam, Kapolda akan kita ajak koneksi untuk wisata ke mari,” kata Dyah. {}

Recent Posts

Ayah Wa Bawa Persoalan Data Warga Korban Banjir yang Belum Terakomodir ke Kemensos RI

MERDEKABICARA.COM | JAKARTA -Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E.,M.M atau yang akrab disapa…

9 jam ago

PNL dan KPKNL Lhokseumawe Perkuat Sinergi Pengelolaan Aset dan Edukasi Lelang

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) menerima kunjungan jajaran Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan…

13 jam ago

Wabup Tarmizi Panyang Tinjau Rumah Warga yang Ambruk Akibat Erosi di Sawang

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang meninjau langsung rumah warga yang…

1 hari ago

Kasus Taruna Malahayati Wafat, Wali Kota Lhokseumawe Siapkan Tim Hukum

MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE - Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., menyatakan siap memberikan pendampingan…

3 hari ago

PT Bumi Flora Tempuh Jalur Hukum Usai Kantor Manajemen Dibakar Dalam Demo Lahan

MERDEKABICARA.COM | ACEH TIMUR - Aksi demonstrasi terkait sengketa lahan di Kabupaten Aceh Timur berujung…

3 hari ago

Cot Murong Sudah Sangat Terkenal Dengan Budi Daya Kakap Putih

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA - Kemukiman Cot Murong Kecamatan Dewantara Aceh Utara sudah sangat terkenal…

3 hari ago