Categories: Sosmas

Stand MAA Aceh Utara Jadi Magnet Piasan Pase 800 Tahun, Hidupkan Pusaka Indatu dalam Balutan Adat dan Syariat

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Stand Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu stand yang paling ramai dikunjungi masyarakat dalam gelaran Piasan Pase memperingati Milad ke-800 Bumoe Samudra Pasee. Di tengah ratusan stand yang hadir menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara, stand MAA tampil dengan kekhasan tersendiri melalui tema “Mengenang Jejak Indatu, Menghidupkan Kembali Marwah Samudera Pasai.”

Sejak dibuka, masyarakat silih berganti mendatangi stand MAA. Ribuan pengunjung tidak hanya datang dari Aceh Utara, tetapi juga dari Lhokseumawe, Aceh Timur, Bireuen dan sejumlah daerah lainnya. Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. bersama rombongan turut mengunjungi stand tersebut, disusul para kepala OPD, anggota DPRK Aceh Utara, tokoh masyarakat, pemuda, anak usia belia serta berbagai unsur lainnya.

Berbeda dengan stand pameran pada umumnya, MAA menghadirkan ruang edukasi adat yang hidup. Beragam khazanah budaya dan pusaka indatu ditampilkan, mulai dari Alee Tunjang, Rapai Pasee, Ranup Teu Chok yang dibagikan secara gratis kepada pengunjung, buku dan majalah tentang adat istiadat, peradilan adat, pakaian khas adat Aceh Utara, hingga berbagai bentuk kerajinan bercorak peradaban Samudra Pasee.

Suasana stand semakin hidup karena adat tidak hanya dipamerkan sebagai benda, tetapi dituturkan, dimainkan dan dipentaskan. Sejumlah kesenian dan tradisi seperti hikayat, cae, Alee Tunjang serta ragam ekspresi budaya lainnya ditampilkan secara bergantian untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda, mengenal kembali akar peradabannya.

Kabid Adat Istiadat MAA Aceh Utara Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST., MT., didampingi anggota Bidang Adat Istiadat Tgk. Banta Khairullah dan Tgk. Mawardi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas antusiasme masyarakat yang begitu tinggi mengunjungi stand MAA.

Menurut Hatta, kehadiran MAA dalam Piasan Pase bukan semata-mata untuk memamerkan peninggalan masa lalu. Lebih jauh, MAA ingin menjadikan momentum 800 tahun Bumoe Samudra Pasee sebagai ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan pusaka indatu, adat, reusam, qanun, seni, bahasa dan nilai-nilai yang telah membentuk jati diri masyarakat Aceh Utara selama berabad-abad.

“Adat bukan sekadar sesuatu yang kita pajang dan kenang. Adat harus dipahami, diwariskan dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, melalui stand ini kami ingin masyarakat tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar, merasakan dan memahami nilai yang terkandung di dalam setiap khazanah adat yang diwariskan indatu,” ujarnya.

Bung Hatta menjelaskan, berbagai penampilan sengaja dihadirkan sebagai media edukasi yang ringan namun kuat. Hikayat, cae, Alee Tunjang dan berbagai kesenian tradisional menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kepada generasi hari ini bahwa Bumoe Samudra Pasee memiliki khazanah peradaban yang besar dan tidak boleh terputus oleh perubahan zaman.

Menariknya, di sela-sela ramainya pengunjung, Hatta beberapa kali mengambil mikrofon di stand MAA. Bukan sekadar mengumumkan kegiatan, ia melantunkan pesan-pesan adat dalam Bahasa Aceh yang membuat pengunjung berhenti sejenak untuk mendengarkan.

“Geupeuget adat geulantoe pageu,
Bek jileingkue siapa saja,
Geupengeun hukom keu aqidah,
Mangat bek salah deungon agama.

Geupeuget reusam cukop meukeunong,
Agam inoeng supaya beda,
Geupeuget qanun pih cukop jroeh,
Bek meuroeh-roeh jeut peukara.

Meunyoe koeng adat, kuat hukom,
Reusam qanun teupelihara,
Rakyat seunang, aman gampoeng,
Han meuron-ron jeut peukara.”

Syair tersebut membawa pesan tentang hubungan erat antara adat, hukum, reusam, qanun dan agama dalam kehidupan masyarakat Aceh. Bagi Hatta, adat tidak boleh dipisahkan dari nilai syariat, sebagaimana syariat menjadi fondasi dalam menjaga kehidupan masyarakat agar tetap berada dalam koridor kebaikan.

Melalui mikrofon yang sama, ia juga mengingatkan salah satu ungkapan adat Aceh yang sarat makna:

“Adat meukoh reubong, hukom meukoh purih.
Adat wajeb tajunjong, hukom hanjeut tanyoe kieh.”

Pesan-pesan adat itu mengalir di tengah hiruk-pikuk Piasan Pase, seakan mengingatkan bahwa perayaan 800 tahun bukan hanya tentang panggung, keramaian dan seremoni. Di balik kemeriahan tersebut terdapat warisan nilai yang harus terus disampaikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat MAA Aceh Utara Rahmadi,SE menegaskan, bahwa delapan ratus tahun adalah perjalanan yang sangat panjang. Indatu kita telah meninggalkan pusaka, peradaban dan nilai. Tugas generasi hari ini bukan hanya membanggakan sejarah itu, tetapi memastikan rohnya tetap hidup. Tajaga adat, tapeukong syariat. Adat ta peumulia, pusaka indatu ta jaga, agar marwah Bumoe Samudra Pasee tetap menyala sepanjang masa.

Rahmadi melanjutkan, kehadiran stand MAA yang dipadati pengunjung akhirnya menjadi lebih dari sekadar ruang pameran. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini; tempat generasi hari ini menyentuh kembali jejak indatu, mendengar bahasa dan hikayatnya, menyaksikan keseniannya, serta memahami nilai yang diwariskan.

Di usia 800 tahun Bumoe Samudra Pasee, pesan itu kembali digaungkan: zaman boleh berubah, generasi boleh berganti, tetapi akar tidak boleh tercerabut. Sebab dari adat terjaga marwah, dari syariat tegak arah, dan dari pusaka indatu sebuah peradaban menemukan jalan untuk terus hidup. {}

Recent Posts

PTPN IV Regional VI Dorong UMKM Binaan Tembus Pasar Provinsi di HUT ke-800 Samudera Pasai

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -PTPN IV Regional VI Langsa, Aceh, turut memeriahkan perayaan Hari Ulang…

40 menit ago

PNL dan PT Perta Arun Gas Perpanjang MoU, Perkuat Sinergi Pendidikan Vokasi dan Industri

MERDEKABICARA.COM |  LHOKSEUMAWE - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) dan PT Perta Arun Gas (PAG) kembali…

3 jam ago

Milad ke-800 Samudera Pasai: Bupati Aceh Utara Pastikan Lokasi Pameran Siap 100 Persen

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Ratusan anjungan dan stand pameran dari berbagai instansi pemerintah, BUMN, BUMD,…

2 hari ago

Assoc. Prof. Dr. Anita Desiani Raih Penghargaan Bhakti Adipustaka Sumatera Selatan 2026

MERDEKABICARA COM | PALEMBANG - Kiprah dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, dan pengabdian kepada…

2 hari ago

Jelang Milad 8 Abad Samudera Pasai, Bupati Ayah Wa Tinjau Kesiapan Stan dan Anjungan

MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil, S.E., M.M., alias Ayah Wa…

3 hari ago

Pengurus SMSI Aceh Utara Resmi Dilantik di Banda Aceh

MERDEKABICARA COM | BANDA ACEH -Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Aceh Utara resmi…

3 hari ago