MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE – Adat tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan masa lalu. Ia harus dipelajari, dipraktikkan, dirawat, lalu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sebab di dalam adat tersimpan jati diri, tata krama, penghormatan, dan nilai-nilai luhur yang menjadi penuntun kehidupan masyarakat Aceh.
Dengan semangat itulah Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara menggelar Pelatihan Pembinaan Pemuda Pelopor Adat bertajuk “Mengawal Warisan Indatu, Menginspirasi Generasi Masa Depan” pada 28–29 Juli 2026 di Aula MAA Kabupaten Aceh Utara, Lhokseumawe.
Sebanyak 27 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Aceh Utara mengikuti kegiatan tersebut. Selama dua hari, para peserta diajak menyelami khazanah adat perkawinan Aceh melalui tiga materi utama, yakni Master of Ceremony (MC) dalam Prosesi Adat Perkawinan Aceh, Seumapa dalam Prosesi Adat Perkawinan Aceh, serta Seurah dan Teurimong Linto Baro dalam Prosesi Adat Perkawinan Aceh.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Sekretariat MAA Kabupaten Aceh Utara, Rahmadi, S.E. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MAA Aceh Utara dalam memperkuat regenerasi pelaku adat dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, mempraktikkan, dan kelak mengambil peran dalam menjaga keberlangsungan adat Aceh di tengah masyarakat.
Narasumber pelatihan berasal dari MAA Kabupaten Aceh Utara, yakni Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST., MT., CPS., CPPS., CMPS., CCLS., CTRS., CCHS. bersama Pakar Adat Tgk. Banta Chairullah, serta dibantu Tgk. Mawardi, SHI (Penyuluh Agama Islam Kemenag Aceh Utara) dan Tgk. Abdul Hanan (Ketua Forum Imum Mukim Se Aceh Utara) dari Bidang Adat Istiadat MAA Kabupaten Aceh Utara.
Sejumlah tokoh adat Aceh Utara turut hadir memberikan motivasi dan penguatan kepada peserta, di antaranya Mukim Ismail dari Meurah Mulia serta Mukim Ismail dari Matangkuli yang juga Wakil Ketua MAA Kabupaten Aceh Utara. Kehadiran para tokoh adat tersebut mempertemukan pengalaman generasi terdahulu dengan energi generasi muda yang sedang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet pelestarian adat.
Pelatihan selama dua hari berlangsung hangat, cair, interaktif, dan penuh keakraban. Materi tidak berhenti pada penjelasan teoritis. Setiap sesi dilanjutkan dengan praktik langsung. Para peserta bergantian tampil menjadi MC dalam prosesi adat perkawinan Aceh, mempraktikkan Seumapa, hingga menjalankan tata cara Seurah dan Teurimong Linto Baro.
Di ruang pelatihan itu, adat tidak sekadar didengar, tetapi diucapkan, diperagakan, dan dirasakan. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi, kemudian mencoba sendiri setiap materi. Ketika ada kekeliruan, narasumber memberikan koreksi dan penguatan, lalu peserta kembali tampil dengan kemampuan dan kepercayaan diri yang semakin baik.
Praktik pada setiap materi membuat suasana semakin seru dan hidup. Sesekali tawa kecil peserta pecah di tengah latihan, terutama ketika mereka mencoba mengolah tutur, intonasi, gerak, dan penguasaan prosesi. Namun di balik suasana santai itu tersimpan kesungguhan untuk belajar. Tepuk tangan bergemuruh berkali-kali sepanjang dua hari kegiatan, mengiringi keberanian peserta yang tampil di hadapan rekan-rekannya.
Tidak terasa jarak yang kaku antara narasumber dan peserta. Ruang pelatihan menjelma menjadi ruang belajar bersama, tempat pengalaman bertemu semangat muda, tradisi bersanding dengan kreativitas, serta warisan indatu diperkenalkan kembali dengan cara yang hangat tanpa kehilangan nilai, tata krama, dan marwah adat Aceh.
Dr (C). Ir. Muhammad Hatta mengatakan, regenerasi menjadi salah satu kunci agar adat Aceh tidak kehilangan ruang di tengah derasnya perkembangan zaman. Menurutnya, menjaga adat bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi memastikan nilai-nilai yang diwariskan para indatu tetap hidup, dipahami, dipraktikkan, dan menemukan penerusnya.
“Warisan indatu tidak boleh hanya tersimpan dalam ingatan generasi terdahulu. Ia harus hidup dalam tutur generasi muda, hadir dalam sikap mereka, dan diteruskan melalui keberanian untuk belajar serta mengambil peran. Kita tidak sedang membawa generasi muda kembali ke masa lalu, tetapi membekali mereka dengan akar yang kuat untuk melangkah menuju masa depan,” ujar Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe
Menurut Muhammad Hatta, pembinaan pemuda pelopor adat harus diarahkan pada kemampuan nyata. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui nama dan bentuk sebuah tradisi, tetapi perlu memahami makna, tata cara, serta memiliki keberanian untuk tampil dan mengambil peran langsung di tengah masyarakat.
“Adat akan tetap hidup ketika ada yang mempelajarinya, ada yang mempraktikkannya, dan ada generasi yang dengan bangga meneruskannya. Karena itu, pelatihan ini bukan sekadar mengajarkan bagaimana menjadi MC, ber-Seumapa, atau melaksanakan Seurah dan Teurimong Linto Baro. Lebih dari itu, kita sedang menyiapkan generasi yang kelak berdiri di tengah masyarakat sebagai penjaga marwah adat Aceh,” kata Ketua Bidang Adat Istiadat MAA Aceh Utara.
Tgk. Banta Chairullah menambahkan, kegembiraan yang hadir sepanjang pelatihan menunjukkan bahwa proses pewarisan adat kepada generasi muda dapat dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, dialogis, dan penuh persaudaraan tanpa mengurangi nilai serta kemuliaan adat itu sendiri.
“Ketika pemuda mulai mencintai adatnya, di sanalah warisan indatu menemukan pewarisnya. Ketika mereka berani berdiri, bertutur, dan mempraktikkannya, di sanalah adat menemukan masa depannya,” tuturnya
Empat Duta Adat MAA Aceh Utara Terpilih
Hari kedua pelatihan menjadi momentum istimewa. Setelah mengikuti rangkaian pembelajaran, diskusi, dan praktik, terpilih empat Duta Adat MAA Kabupaten Aceh Utara, yakni Aulia Al-Arahman, S.Ag., S.Pd., M.Pd., CPS., CMC dari Kecamatan Dewantara; Zaki Munandar dari Kecamatan Lhoksukon; Zulfakri dari Kecamatan Nisam Antara; serta Muhammad Khalilullah dari Kecamatan Tanah Luas.
Terpilihnya para Duta Adat diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah predikat, tetapi menjadi amanah untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas, memperkenalkan nilai-nilai adat kepada generasi sebaya, serta menjadi penggerak pelestarian adat di kecamatan dan lingkungan masing-masing.
Pada kesempatan yang sama, panitia juga memberikan apresiasi kepada empat Peserta Terbaik Pelatihan Pembinaan Pemuda Pelopor Adat, yakni Aulia Ummul Rahman, Fardi, M. H. Muslem, dan Irfan Hadi.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kesungguhan, keaktifan, keberanian tampil, serta semangat para peserta selama mengikuti rangkaian pelatihan.
*Dari Pelatihan Lahir SEUTARA*
Pelatihan Pemuda Pelopor Adat kali ini meninggalkan jejak yang lebih jauh dari sekadar berakhirnya sebuah kegiatan. Dari perjumpaan 27 pemuda tersebut lahir Seniman Tradisi Aceh Utara (SEUTARA), sebuah wadah yang menghimpun generasi muda dengan kecintaan dan kepedulian terhadap seni, adat, tradisi, dan kebudayaan Aceh.
Pembentukan SEUTARA sekaligus menjadi langkah konkret agar semangat yang tumbuh selama pelatihan tidak berhenti ketika peserta meninggalkan aula. Organisasi tersebut diharapkan menjadi ruang kaderisasi, kreativitas, kolaborasi, dan pengabdian bagi pemuda dalam menjaga serta mengembangkan khazanah seni dan adat Aceh Utara.
Kepengurusan SEUTARA Periode 2026–2028 ditetapkan melalui Keputusan Ketua Majelis Adat Aceh Kabupaten Aceh Utara pada 29 Juli 2026 oleh Ketua MAA Kabupaten Aceh Utara, T. Idris Thaib.
Berdasarkan keputusan tersebut, Zulfakri dipercaya sebagai Ketua, didampingi Irfan Hadi sebagai Wakil Ketua. Sementara Aulia Al-Rahman, S.Ag., M.Pd. dipercaya sebagai Sekretaris, Iqbal Murtazza, M.Sos. sebagai Wakil Sekretaris, dan Muhammad Khalilullah sebagai Bendahara.
Lahirnya SEUTARA menjadi salah satu capaian penting dari Pelatihan Pembinaan Pemuda Pelopor Adat. Para pemuda yang sebelumnya datang dari berbagai kecamatan untuk belajar kini dipertemukan dalam satu wadah untuk belajar, berkarya, berkader, dan bergerak bersama menjaga warisan indatu.
SEUTARA diharapkan tidak sekadar menjadi nama organisasi. Lebih dari itu, ia diharapkan menjadi rumah tumbuh bagi generasi baru pelaku seni dan adat Aceh Utara, tempat Seumapa terus bertutur, prosesi adat terus diwariskan, seni tradisi memperoleh ruang untuk berkembang, dan nilai-nilai indatu menemukan penerusnya.
Pelatihan Pembinaan Pemuda Pelopor Adat akhirnya ditutup dengan sebuah optimisme baru oleh Tgk. Ismail Wakil Ketua MAA Aceh Utara. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus modernisasi, adat Aceh akan tetap menemukan ruang untuk tumbuh selama generasi terdahulu bersedia mewariskan dan generasi muda memiliki kemauan untuk belajar, mencintai, serta meneruskannya. {}
MERDEKABICARA.COM | MEDAN -Prestasi membanggakan kembali ditorehkan kontingen Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) pada ajang Pekan…
MERDEKABICARA.COM | MEDAN – Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) XV Politeknik Se-Indonesia resmi dibuka di…
MERDEKABICARA,COM | ACEH UTARA -Dinas Syariat Islam (DSI) Kabupaten Aceh Utara menegaskan bahwa informasi mengenai…
MERDEKABICARA.COM | ACEH UTARA -Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Aceh Utara, Aceh, meluncurkan Sekolah…
MERDEKABICARA.COM | LHOKSEUMAWE= Semangat juang dan optimisme mewarnai pelepasan Kontingen Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) yang…
MERDEKABICARA.COM | JAKARTA – Komitmen Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., M.M. atau…