Categories: IslamOpini

Ramadhan: Sekolah Sunyi yang Mendidik Jiwa

Oleh: Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST. MT

MERDEKABICARA.COM | Ramadhan selalu datang tanpa gegap gempita, tetapi ia mampu menggetarkan jiwa-jiwa yang peka. Ia bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah jeda peradaban. Sebuah bulan di mana manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk kembali menata arah hidupnya.

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, mulai dari kompetisi ekonomi, ambisi politik, dan tuntutan sosial, Ramadhan hadir sebagai ruang kontemplasi kolektif. Ia mendidik manusia bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan pengalaman: menahan lapar, mengendalikan emosi, mengatur kata, dan menjaga pandangan. Lapar menjadi bahasa universal yang menyadarkan; bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap rezeki dan kenyamanan.

Ramadhan sejatinya adalah sekolah karakter. Di dalamnya ada kurikulum kesabaran, disiplin, empati, dan kejujuran. Tidak ada pengawas yang berdiri di samping kita sepanjang hari, namun setiap insan sadar bahwa ada Pengawas Yang Maha Mengetahui. Di situlah letak pendidikan spiritual paling otentik: integritas yang lahir bukan karena takut pada manusia, tetapi karena sadar akan pantauan sang Maha Pencipta.

Lebih jauh, Ramadhan adalah momentum rekonsiliasi sosial. Di meja iftar yang sederhana, sekat-sekat sosial sering kali mencair. Semua duduk berdampingan. Di masjid, pangkat dan jabatan luruh dalam satu saf. Kesetaraan bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata. Ramadhan mengingatkan bahwa kemuliaan bukan pada atribut duniawi, tetapi pada kualitas takwa dan akhlak.

Namun, Ramadhan juga menghadirkan pertanyaan reflektif: apakah ia hanya menjadi ritual tahunan yang berlalu tanpa bekas? Ataukah ia benar-benar menjadi titik balik pembentukan pribadi dan peradaban? Puasa tidak berhenti pada menahan lapar; ia harus menjelma menjadi pengendalian diri dalam kebijakan publik, kejujuran dalam transaksi ekonomi, serta kelembutan dalam relasi sosial.

Dalam konteks masyarakat kita hari ini, Ramadhan semestinya menjadi energi moral. Ia bisa menjadi momentum memperkuat literasi spiritual di tengah banjir informasi. Ia bisa menjadi ruang memperbaiki komunikasi publik yang sering keras dan polarisatif. Jika nilai-nilai Ramadhan, baik kejujuran, empati, pengendalian diri, seyogyanya dapat diterjemahkan dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan, maka ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan transformasi.

Ramadhan pada akhirnya bukan sekadar tentang menunggu azan magrib. Ia tentang perjalanan batin menuju kedewasaan. Ia mendidik kita bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan menguasai orang lain, melainkan pada kemampuan menguasai diri sendiri.

Dan ketika hilal Syawal tiba, yang seharusnya kita rayakan bukan hanya kemenangan menahan lapar, tetapi kemenangan menaklukkan ego. Sebab Ramadhan yang berhasil bukanlah yang sekadar selesai dijalani, melainkan yang meninggalkan jejak dalam cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak jauh setelah bulan itu berlalu. []

 

Penulis adalah Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe

Recent Posts

ssfdhsdfhs

sfdhgsdfhsfdhdsfh

4 jam ago

Marvel Casino w 2026 roku – kompleksowy przegląd

Dlaczego gracze wybierają Marvel Casino w Polsce Marvel Casino to platforma kasynowa funkcjonująca online, która…

11 jam ago

GGBet Casino 2026: Przewodnik po promocjach i zasadach

Przegląd oferty promocyjnej: co już na start oferuje kasyno Inny punkt widzenia obejmuje analizę aspektyw…

12 jam ago

Coronavirus disease 2019

Coronavirus disease 2019 COVID-19 is a contagious disease caused by the coronavirus SARS-CoV-2. In January…

13 jam ago

Coronavirus disease 2019

Coronavirus disease 2019 COVID-19 is a contagious disease caused by the coronavirus SARS-CoV-2. In January…

13 jam ago

Coronavirus disease 2019 COVID-19 is a contagious disease caused by the coronavirus SARS-CoV-2. In January…

13 jam ago